Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Sembahyang Angin dan Lautan

MAMHTROSO.COM -- Datang ke Patangpuluhan seorang sahabat saya yang sedang dirundung duka. Novelnya ditarik dari peredaran dan dilarang dibaca. Filmnya yang berdasar novel itu juga dicekal. Ia diklaim sebagai penganut aliran sesat. Ia dikucilkan di mana-mana, dan mau tidak mau menjadi bertengkar di keluarga dan familinya.

Ia tidak bisa menemukan tempat untuk mengungsi kecuali di Patangpuluhan. Saya menerimanya sebagai sahabat yang kesungguhan hidupnya sangat tinggi. Hatinya baik. Logika penafsiran yang dipakainya bisa dinalar. Ia melakukan shalat lima waktu tidak sebagaimana yang dicontohkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad Saw, tetapi memformulasikan sendiri tata caranya berdasarkan pemahamannya terhadap Al-Qur`an.

Ia shalat berdiri. Kemudian menjulurkan kedua tangannya. Menyilangkannya. Melakukan sejumlah pose gerakan yang menggambarkan hembusan angin dan gelombang lautan. Jadi shalatnya memerlukan tempat yang luas. Andaikan berjamaah, untuk sepuluh orang diperlukan minimal seluas satu kelas di Sekolah. Ia juga menyuarakan bunyi-bunyi dari mulutnya seakan-akan angin sedang bertiup ke sana kemari.

وَاللَّهُ الَّذِي أَرْسَلَ الرِّيَاحَ فَتُثِيرُ سَحَابًا
فَسُقْنَاهُ إِلَىٰ بَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَحْيَيْنَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا
كَذَٰلِكَ النُّشُورُ

Dan Allah, Dialah Yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati lalu Kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianlah kebangkitan itu.

Saya mempersilakan dia melakukan shalat dengan caranya itu di ruang depan rumah Patangpuluhan. Semua pintu dan jendela saya tutup. Jangan sampai para tetangga atau siapapun yang lewat atau kalau-kalau ada tamu mendadak akan kaget melihatnya.

Di sela-sela shalat lima waktu kami mengobrol. Saya mendengarkannya sepenuh hati. Saya buka ruang orasi seluas alam semesta. Saya biarkan dia mengemukakan apa saja, tafsir, analisis, logika, teori, metodologi, dan apapun saja tanpa saya bantah sedikit pun.

Kalau dia punya bahan seluas air tujuh lautan, saya wadahi dengan ruang sebesar bumi. Kalau dia mengekspresikan kenikmatan tafsirnya seluas tata surya, saya menyediakan ruang seluas galaksi. Saya mateg aji menjadi Hamengkubuwono, yang menyunggi seluruh galaksi. Tidak sekadar Hamengkubawono, membopong hanya sebulatan bumi. Sebab bumi tidak bisa dipahami tanpa mengerti spektrum tata surya dan skala galaksi-galaksi.

Teman saya yang jujur itu ngudarasa ngunandika berjam-jam, berhari-hari, saya mewadahinya dengan jiwa “bis-shobri was-shalat”, dengan ketahanan mental “bilhikmah wal mauidlatil hasanah”.

Sampai akhirnya habis bahannya. Saya masih siap mendengarkan sampai pun melewati batas waktu alam semesta. Tapi senyap. Ia sudah menumpahkan seluruh yang ada di dalam pikiran dan jiwanya.

Kemudian akhirnya ia berbisik: “Cak, nanti saya ingin shalat malam, tapi Njenengan yang ngimami”.

Lewat tengah malam kami shalat bersama. Dia patuh sebagai makmum. Dia sudah kembali menjadi seperti semula, tanpa saya membantahnya. Dia meletakkan dirinya persis seperti sebelumnya, tanpa saya mengkritiknya, menasihatinya atau apapun.

Beberapa hari kemudian dia balik ke Jakarta. Saya diminta ketemu oleh Kakaknya, Ibunya, dan keluarganya. Mereka menyampaikan kelegaan hati, rasa syukur kepada Allah Swt dan terima kasih kepada saya. Saya kasih tahu mereka bahwa saya tidak pantas menerima ucapan terima kasih itu, karena saya tidak melakukan apa-apa untuk mengubahnya. Apalagi untuk “mengembalikannya dari ketersesatan ke jalan yang benar”. Saya hanya bersabar mendengarkannya.

Beberapa bulan yang lalu Arif anggota Teater Jiwa pimpinan anak saya Agung Waskito (sekarang almarhum) datang ke Patangpuluhan dengan marah-marah dan membawa pedang untuk membunuh saya. Dia berpendapat bahwa saya tidak membela Agung dalam suatu peristiwa internal mereka.

Memang kemarin sore saya datang ke rumah kontrakan Agung dan menjumpainya bersama Uneng istrinya dalam keadaan stres berat dan bertengkar habis. Saya elus mereka, saya seret dan bimbing ke kamar mandi untuk berwudlu. Kemudian saya ajak dan saya imami shalat Ashar. Kemudian pelan-pelan berdialog dan alhamdulillah segala sesuatunya bisa menjadi jernih.

Tiba-tiba sore itu Arif datang membawa pedang. Kemudian saya merebahkan punggung saya ke kursi bambu di teras Patangpuluhan, dan saya persilakan ia menebaskan pedang ke leher saya. Arif ternyata tidak melakukannya. Ia menjadi gemetar. Pedangnya jatuh ke lantai. Lantas ia mengambilnya kembali dan diserahkan kepada saya.

قُلْ إِن ضَلَلْتُ فَإِنَّمَا أَضِلُّ عَلَىٰ نَفْسِي
وَإِنِ اهْتَدَيْتُ فَبِمَا يُوحِي إِلَيَّ رَبِّي
إِنَّهُ سَمِيعٌ قَرِيبٌ

Katakanlah: “Jika aku sesat maka sesungguhnya aku sesat atas kemudharatan diriku sendiri; dan jika aku mendapat petunjuk maka itu adalah disebabkan apa yang diwahyukan Tuhanku kepadaku. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat”.

https://www.caknun.com/2021/sembahyang-angin-dan-lautan/

 

Rumah “Ireng Thuntheng Peteng Dhedhet”

MAMHTROSO.COM -- Rumah Kontrakan Patangpuluhan antara 1978-1998, namun sampai hari ini masih semi-aktif, adalah rumah yang jelek banget, sangat murah sewanya dan level arsitektural maupun kesejahteraan penghuninya sangat rendah. Rumah itu milik penduduk Prambanan tapi tinggal di Kaledonia Baru yang tidak pernah merasakan dinamika Rupiah, sehingga ia menentukan harga sewa rumah itu sangat murah. Sekitar sepertiga bahkan seperempat harga normal yang berlaku umum.

“Pulung” rumah itu diperoleh oleh Cak Adil Amrullah, adik saya yang memang dianugerahi Allah keistimewaan-keistimewaan khusus. Cak Dil juga menjadi kunci dari komunitas bebrayan dan pembelajarannya sendiri. Ia merintis, mendirikan, dan menerbitkan Majalah “Kuntum” Ikatan Pelajar Muhammadiyah DIY sejak pertengahan era 1980-an yang kabarnya masih terbit sampai hari ini.

Tentulah nama “Kuntum” yang romantik dan harum karena langsung terasosiasikan ke bunga itu sumbernya adalah firman Allah:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ
تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

Posisi tata bahasa “kuntum” secara harfiah adalah “kalian telah menjadi”. Entah bagaimana maksud Allah. Kalau faktanya sama sekali tidak. Sejak 15 abad silam sepeninggal Kanjeng Nabi, Kaum Muslimin sama sekali belum menjadi “khoirul ummah”, meskipun Islamnya sangat luas menyentuh masyarakat dunia saat ini. Jadi mungkin maksud ayat itu adalah manusia plus Al-Qur`an adalah masyarakat terbaik di antara yang lain-lain di muka bumi.

Tidak ada indikator cukup kuat bahwa Ummat Islam cukup mensyukuri dengan sungguh-sungguh dianugerahkannya Al-Qur`an oleh Allah. Fakta syukur yang membuat mereka merasa nikmat mempelajarinya, mentadabburinya, menggali nilai dan hikmahnya.

Hal seperti itu masih belum menjadi “main mindset” kehidupan kaum Muslimin. Masyarakat Islam lebih menonjol eksistensinya sebagai “tabi’it-tabi’in”nya Nabi-nabi materialisme, kapitalisme dan liberalisme.

Khasanah nilai Al-Qur`an belum mengaktualisasi, belum mewujud atau tertransformasikan secara optimal dalam kehidupan kaum Muslimin apalagi masyarakat dunia keseluruhannya.

Tidak ada negeri Islam yang bisa diandalkan untuk menjadi sampel dari “Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur”. Mungkin “baldatun thayyibatun”nya relatif untup-untup ada gejalanya, tapi “Rabbun Ghafur”nya bukan hanya samar tapi cenderung gelap.

Apalagi di Indonesia. Statistiknya jelas ummat Islam adalah mayoritas penduduknya, Tetapi wajah politiknya, perekonomiannya, kebudayaan dan akhlaknya, sama sekali belum “baldatun thayyibatun”, apalagi terlalu banyak kasus kedhaliman dan permalingan yang sukar dibayangkan Indonesia memperoleh “Rabbun Ghafur”.

Cak Dil sendiri sekian tahun sesudah ia merintis “Kuntum” dan kemudian bergiliran pengelolaannya, pada suatu malam ditolak untuk tiduran di bangku depan Kantor “Kuntum”. Seorang dari dalam bertanya: “Bapak ini siapa?”.

Tidak mungkinlah Cak Dil lantas menjawab: “Saya pendiri Kuntum”. Yang adik saya lakukan hanyalah bangun dari menggeletaknya, berdiri dan ngeloyor pergi.

Masih alhamdulillah anak-anak “Kuntum” cukup beradab sehingga tidak melaporkannya ke Pak RT atau Polsek sebagai tamu gelap yang mungkin mengincar akan mencuri sesuatu di kantor “Kuntum”.

Kita semua sudah sangat hapal dan mafhum kepada sangat rendahnya kesadaran sejarah bangsa Indonesia. Hanya saja jangan sampai suatu hari Kanjeng Nabi Muhammad Saw atau Nabi Khidlir tiduran di teras rumahmu, lantas kau tanya “Bapak ini siapa?”. Dan demi melindungimu beliau berdua tidak mengaku siapa beliau, melainkan hanya ngeloyor pergi.

Insyallah Kanjeng Nabi dan Nabi Khidlir juga tidak akan melakukan seperti yang biasa dilakukan oleh Gus Ud Kedungcangkring. Ia lewat di tepi jalan, ada dahan ranting daun dan buah yang keluar ke area jalan, padahal batangnya di halaman rumah. Gus Ud iseng memetik sebuah pencit atau mangga kemampo. Ketahuan oleh yang punya, diteriaki dan diusir. Gus Ud pun lari terbirit-birit. Besoknya pohon mangga itu mati, rontok semua daun-daunnya, menguning dan batangnya ambruk.

Itu sama dengan kejadian ketika dalam suatu acara Parade Terbangan (shalawatan) ISHARI yang disebut Kombinasi di Menturo, seseorang melihat Gus Ud berdiri buka sarung dan kencing di halaman Langgar Etan dekat area Padangbulan, kemudian dilaporkan. Tiba-tiba Gus Ud teriak marah-marah: “Tuwwaek arek-arek iki. Terbangan gak eplek kabeh”. Kemudian beliau berlari, merebut satu terbang dari tangan Sing mBawa` (yang memimpin shalawatan). Kemudian meneruskan teriak: “Ngene lho terbangan ikuuuu”. Beliau tabuh terbang itu dan “pettt” mati semua lampu petromak sehingga arena Kombinasi itu gelap pekat.

Setengah jam kemudian jamaah menyalakan lagi “damar-damar strongking” itu sambil menggerundah: “Waaah Mbah Ud iki ngrepoooti ae…”.

Andaikan saya seorang Waliyullah dan dianugerahi karomah seperti Gus Ud, saya akan ke Istana malam-malam. Saya padamkan semua nyala listrik. Saya hembuskan dari mulut saya “Sirep”. Kemudian saya sebar serbu “Rawe” ke seluruh ruangan. Nanti mereka semua penghuni istana dan para angggota Paspampres akan sibuk garuk-garuk seluruh badannya.

Tapi saya bukan Wali. Tetangga rumah Patangpuluhan membangun pagar mewah depan rumahnya, untuk menyaingi sehabis saya memperbaiki pagar bambu depan rumah Patangpuluhan. Saya minta Saiful Imron beli cat hitam banyak-banyak. Seluruh pagar, rumah, tembok, jendela, pintu, apa saja, bahkan lantai ruang depan, kami cat hitam.

Rumah Patangpuluhan benar-benar menjadi “omah ireng thuntheng”, suasananya “peteng dhedhet”. Padahal neraka saja terang benderang oleh nyala api berkobar-kobar di sana sini.

https://www.caknun.com/2021/rumah-ireng-thuntheng-peteng-dhedhet/

 

Manggung Tanpa Naik Panggung

MAMHTROSO.COM -- Karena memang kelompok musik, maka kegiatan utama KiaiKanjeng, di samping berkeluarga di rumahnya masing-masing, adalah manggung. Bekerja dengan menampilkan musik di panggung.

Sebelum pandemi 2020, tercatat jumlah pemanggungan KiaiKanjeng adalah 4149. Di tengah Pandemi mereka manggung di Cikarang berarti ke-4150. Kalau ditambah Mocopat Syafaat beberapa kali berarti 4152-3 kali. Saya tidak tahu jumlah pemanggungan kelompok-kelompok musik lain, seperti Letto adiknya sendiri, atau Dewa, atau God Bless dan AKA zaman dulu berapa kali.

KiaiKanjeng manggung tiga kali di tiga kota dalam semalam. Bakda Isya di UIN Semarang, pukul 22.30 di halaman Masjid Pati, pukul 03.00 di Pesantren Grobogan. Massa atau jamaah sudah pulang tapi berduyun-duyun kembali lagi karena bertemu mobil KiaiKanjeng di tengah jalan. KiaiKanjeng manggung sampai adzan Subuh terdengar. Dari Grobogan KiaiKanjeng langsung menuju Pekalongan. Peci, baju, dan sandal saya lenyap direbut oleh Jamaah. Baru masuk Pekalongan mampir beli sandal jepit.

Kemungkinan besar lebih banyak kali. Tetapi dari sudut keragaman konteks dan tempat pemanggungan, mungkin KiaiKanjeng memang spesifik. Rata-rata di lapangan, di halaman Kelurahan atau Masjid, bisa juga di tepi hutan, di leher gunung, di tepi laut, atau di tempat-tempat lain yang tidak lazim dan sulit secara teknis untuk menata keperluan pemanggungannya.

Dari segi keluasan wilayah yang mereka jangkau untuk manggung, mungkin juga tidak banyak padanannya. Misalnya 6 kota di Mesir, 3 kota di Italia, 9 kota Netherland, 4 kota Inggris dan juga Australia, 3 kota di Malaysia, 1 kota Finlandia dan Skotlandia.

Tetapi yang lebih merupakan keunggulan adalah penjelajahan KiaiKanjeng ke sangat banyak pelosok-pelosok Nusantara, dengan ragam segmen dan level masyarakat.

Juga tengah-tengah manggung listrik dan sound mendadak mati di Pabelan, Karanganyar, Sukoharjo, Blora. Di Gondanglegi Malang sampai selesai manggung pukul 02.00 dini hari hanya pakai sound vocal, tidak ada sound untuk musik. Dan itu semua tidak pernah menjadi masalah bagi KiaiKanjeng. Tak sampai satu menit sesudah lampu dan sound mati, massa sudah bernyanyi bersama atau shalawatan diselai dialog teriak-teriak setengah mati.

Atau hujan deras di alun-alun Pekalongan, Gresik, Bantul dll tapi justru menambah semangat masyarakat untuk malah mendesak ke depan panggung. Kepada mereka saya membandingkan apa kerugian dan keuntungan kalau tidak hujan dibanding hujan. Dan kami bersama-sama menemukan bahwa hujan justru mendekatkan hati dan kekentalan kebersamaan kami.

Kecuali di sebuah taman di Ismailiya Mesir yang hujan dan sangat dinginnya udara membuat personel KiaiKanjeng berjuang ekstra keras untuk membunyikan musiknya. Tetapi semua yang terjadi oleh KiaiKanjeng selalu dicari berkahnya, ditemukan kenikmatan ekstranya, serta diwaspadai keuntungan-keuntungannya yang tak terduga, yang kalau tidak hujan, listrik dan sound tidak mati — semua itu tidak muncul “min haitsu la yahtasib”.

Fenomena lain yang sering terjadi adalah manggung tanpa saya naik panggung. Di Enrekkang Sulsel dan Sidoarjo KiaiKanjeng gotong royong kerja keras membalik arah panggung. Di Kudus, Bojonegoro, Gresik, Solo, dan sejumlah tempat lain, ketika saya melakukan workshop dengan mengundang anak-anak kecil naik panggung untuk melakukan sejumlah hal: saya sendiri harus turun panggung. Di Mandar dan Samarinda juga terjadi yang seperti ini.

Tetapi yang saya sama sekali tidak menyentuh panggung adalah di Tulangbawang Lampung. Wilayah yang dari Tanjungkarang harus ditempuh melalui jalanan yang sangat rusak seperti sungai tak ada airnya. Di Tulangbawang sedang terjadi konflik antar-Plasma. Plasma adalah kelompok pekerja masyarakat, Inti-nya adalah Perusahaan dan Pabrik yang mengolah hasil kerja masyarakat.

Perusahaan Udang yang di Tulangbawang itu dua terbesar di dunia produksi atau eksportnya. Tetapi hampir dua tahun berhenti berproduksi karena para Plasma yang jumlahnya 4.500 KK bertengkar satu sama lain. Sampai ada penyerbuan, luka, mati, masuk penjara, serta 1.500 KK diusir dari desanya.

Saya dan KiaiKanjeng diminta datang untuk memediasi konflik mereka. Tentu saja kami mempelajari seluruh seginya, sebab akibatnya, serta simulasi kemungkinan solusinya. Sebenarnya ke mana saja KiaiKanjeng manggung, meskipun tak ada kasus atau konflik apa-apa, selalu ada tim KiaiKanjeng yang mempelajari keadaan masyarakat di tempat itu. Dengan demikian muatan tema Maiyahan ada landasan dan orientasinya.

Terlebih dulu saya menemui satu persatu pimpinan-pimpinan kelompok yang berperang. Besoknya pemanggungan KiaiKanjeng, semua yang bertengkar itu datang. Saya menemukan bahwa sebaiknya saya tidak naik panggung, melainkan berimprovisasi jalan ke sana kemari di bawah panggung, untuk mengelola alur komunikasi yang terjadi.

Setiap masalah harus bersama-sama ditemukan dan disepakati substansinya, dilihat bersama dasar-dasar nilai kenapa manusia hidup, bermasyarakat dan bekerja. Kemudian dikuliti, dianalisis, dan dicari pointers tawaran-tawaran kemungkinan penyelesaiannya.

Dengan KiaiKanjeng satu kali ke Tulangbawang. Saya sendiri sampai tiga kali untuk pada akhirnya bisa berdamai. Di Pulau Jawa yang makin padat orang makin kesulitan mencari kerja, “Kenapa Sampeyan semua yang sudah punya pekerjaan bagus, sangat produktif dan berprestasi secara internasional, malah Sampeyan hancurkan sendiri”.

Manusia tidak besar potensinya untuk berubah berdasarkan kesadaran atas kebenaran atau kemashlahatan. Pada banyak hal, manusia harus dipojokkan dan dipaksa untuk berubah. Maka terakhir saya mengancam mereka bahwa kalau sesudah kedatangan saya yang terakhir ini keadaan belum damai, saya akan bubarkan Perusahaan Inti mereka. Seolah-olah saya punya saham terbesar dan punya kuasa untuk bisa membubarkan perusahaan.

Tetapi mereka termakan oleh ancaman saya. Salah satu sebabnya adalah menyangka secara klenik dan mistis bahwa saya adalah bagian dari yang berkuasa di Negara ini sehingga mampu membubarkan perusahaan mereka. Sejak itu perdamaian disepakati dan berlangsung hingga Perusahaan beroperasi kembali dan berprestasi lagi di ekspor dunia.

https://www.caknun.com/2021/manggung-tanpa-naik-panggung/

 

Memedi Gopok

MAMHTROSO.COM -- Saya mohon izin membikin tulisan sela tentang pertarungan MMA antara Conor McGregor vs Dustin Poirier Minggu pagi 24 Januari 2021 yll. Jangan tanya apa alasan saya belok atau loncat ke urusan pertarungan di Cage (Octagon kalau UFC). Karena hidup ini adalah MMA, mix martial art. Hidup adalah seni pertarungan. “Kutiba ‘alaikumul qital”, firman Allah yang sudah saya tafsirkan sebagai “keniscayaan kehidupan adalah peperangan”. Bukan Anda diwajibkan memerangi dan membunuh orang lain.

Qital adalah salah satu bentuk eksekusi dari Jihad. Rasulullah Saw seusai perang Badar yang dahsyat dan mengerikan bersabda: “Jihad melawan orang kafir dalam Perang Badar telah usai. Setelah itu, kalian akan menghadapi jihad yang lebih besar lagi”.

“Jihad apalagi yang lebih besar dari Perang Badar, ya Rasul?” tanya seorang sahabat. “Jihad melawan nafsu diri sendiri,” jawab beliau.

Tidak usah bersekolah untuk memahami bahwa tiap hari kita berjihad dan mengalami peperangan. Pagi-pagi perang melawan rasa malas untuk bangun Subuh. Kemudian seharian berjihad macam-macam, berperang kemauan melawan keharusan, keinginan melawan kewajaran, emosi melawan akal sehat, kerakusan melawan presisi. Dalam kehidupan bertetangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, kita punya beribu-ribu sebab atau alasan untuk berperang.

Perang adalah segala jenis benturan, ketidakcocokan, ketidaksetujuan, atau pertentangan-pertentangan tentang sesuatu yang berentang-rentang banyaknya dan bertumpuk-tumpuk jumlahnya.

Andaikan saya punya kesadaran nilai kehidupan lebih awal di usia saya dulu, mungkin saya memilih jadi petinju, kemudian kick-boxing dan akhirnya MMA. Tidak sekadar sepakbola. Daripada mempertandingkan kekayaan dengan tetangga, mempertandingkan kekuasaan dengan pengurus negara, mending adu arep duel satu lawan satu di ring tinju. Aturannya jelas, kalah menangnya kelihatan mata. Meskipun tetap ada relativitas dan kontroversi ketika ketentuan menang kalah dipegang oleh Dewan Juri. Strategi untuk mengalahkan lawan mudah dipelajari. Segala unsur dari pukulan, tendangan hingga spinning, tangkisan, elakan, atau bermain ruang dan waktu. Memperhitungkan ruang pukul, koordinat mana dan berapa yang merupakan lubang kelemahan lawan. Atau berhitung momentum. Pukulan sedahsyat apapun kalau tidak tepat koordinat ruang dan momentum waktunya, akan malah kontra-produktif.

Kekuatan menang melawan kelemahan. Kekuatan kalah oleh ketahanan. Tetapi koordinat dan momentum mengalahkan kekuatan maupun ketahanan.

McGregor sangat terkenal dan ditakuti karena akurasi koordinat dan momentumnya. Tetapi Artemij Sitenkov, Joseph Duffy, Nagte Diaz dan Khabib Nurmagomedov bisa menghindar dari akurasi dan presisi ruang dan waktunya McGregor.

Ketika Dustin Poirier harus tanding melawan McGregor di Pulau Yas Abu Dhabi Minggu itu, sebagian besar petarung MMA lainnya maupun pengamat dan kritikus, menghitung McGregor akan pasti menang, sebagaimana ia meng-KO Dustin pada 2014 di Las Vegas.

Saya melihat duel ini dengan tema yang berbeda yang saya pilih sendiri untuk memohon kepada Allah. Saya shalat hajat dan wiridan untuk Dustin. Proposal saya menggunakan landasan pemikiran akhlaq. Bagi saya McGregor adalah “ahlul fasad”, perusak nilai kehidupan, mulutnya “pauwan” atau sampah, setiap pernyataannya menyakiti lawannya dan semua makhluk asalkan mereka manusia yang berhati nurani. Orang Irlandia satu ini bahkan pernah bilang “Yesus pun akan saya tendang bokongnya”.

Saya mengemis kepada Allah agar McGregor dihajar, karena ia merusak kehidupan, produser Wishky “Propper-Twelve” dan kerjanya menyakiti manusia, bahkan sejumlah wanita. Saya bukan membutuhkan kekalahan McGregor. Yang saya perlukan adalah istiqamah keyakinan bahwa Allah tidak menyukai orang dhalim. Dan kalau Allah bertindak kepada orang-orang dhalim, kita laba iman, laba keyakinan. Saya takut orang tidak percaya pada pernyataan Allah yang anak kita di TPQ pun hapal, bahwa;

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ
وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.

Sebagaimana dulu ketika Khabib melawan McGregor 6 Oktober 2018, saya ngemis-ngemis kepada Allah agar membesarkan hati Kaum Muslimin di seluruh dunia. Kita ini sudah kalah segala-galanya, kalah politik, kalah ekonomi, kalah kebudayaan, diatur-atur oleh Amerika dan Cina, di-plekotho oleh penguasa-penguasa dunia. Mosok minta Khabib dan Dustin menang saja dianggap serakah.

Secara strategi MMA saya membayangkan Dustin sudah menganalisis dengan Mike Brown pelatihnya tentang akurasi ruang waktu McGregor. Dustin harus tahu dan melatih “selaning banyu udan”. Minimal selalu jaga jarak dan jangan memukul duluan, karena McGregor adalah seorang “counter boxer” yang sangat peka dan cepat reaksinya. Dustin harus mengatur dinamika kuda-kuda kakinya dan sudut berdirinya di depan McGregor untuk mendapatkan hulu ledak pukulan yang ideal. Sebagaimana keahlian petinju Vasyl Lomachenko, Ryan Garcia atau Inoue Naoya.

McGregor sendiri mengklaim ia akan meng-KO Dustin sebelum satu menit, sebagaimana ia menghabiskan Donald Cowboy Cerrone dalam 40 detik yang memang kurang berkelas. Dustin kalah TKO oleh McGregor 2014, tetapi di Abu Dhabi ini dia tidak punya niat untuk balas dendam. “Saya hanya berkonsentrasi meningkatkan pendacapaian hidup saya, menambah kesejahteraan keluarga saya, dan kemajuan Yayasan Sosial saya”.

Mike Brown sendiri sudah tahu bahwa kelemahan McGregor adalah pada kondisi fisiknya. Maka banyak yang meramal: kalau selesai ronde awal, McGregor menang. Kalau berlanjut ke ronde 2-3-4-5 maka Dustin punya kans untuk menang. Pendapat ini termasuk diungkapkan oleh legenda Canada petarung George Saint Pierre.

Dustin sendiri sejak awal menyiapkan “lara lapa” 5 ronde penuh. Petarung itu potensi utamanya adalah “tahan dipukul” bukan “pandai memukul”. Coba kalau pukulan McGregor muncul dari tangan lawannya mengenai dagu McGregor sendiri, seberapa tahan dia.

Yang saya lega pada pikiran saya sendiri adalah ternyata benar bahwa McGregor hanyalah hantu atau memedi yang gopok. Ia hantu karena pandai mencuri pukulan di saat-saat awal. Tetapi kalau sekali ia kena pukul, akan terbukti bahwa ia memang gopok. Sementara pertarungan Dustin melawan Eddie Alvarez, Justin Gaethje atau Max Holloway jauh lebih “sengsara”, dibanding melawan McGregor yang relatif mudah, ringan dan tanpa terluka sedikit pun.

McGregor memang Rapuh badan dan mentalnya. Khabib pun menyesalkan bahwa selama bertarung dengannya yang akhirnya kalah “rear naked choke” di ronde 4, Gregor selalu sesambatan seperti anak kecil. Minta maaf kepada Khabib bahwa omongannya “hanya untuk bisnis” dlsb.

Allah Maha Pengasih Maha Penyayang. Saya tidak menyimpulkan bahwa McGregor kalah TKO adalah hasil doa saya. Tetapi saya terseret menjauh dari garis putus asa dan merasa kesepian dari Allah sendiri dalam hidup saya.

Sementara ini Khabib dirayu-rayu oleh Dana White Presiden UFC untuk mau tanding lagi sesudah menyatakan mundur setelah mengalahkan Justin Gaetjhe dengan mudah. Dengan McGregor keok runtuh alasan Dana untuk minta Khabib remach dengan McGregor. Saya sejak lama berpendapat Khabib mundur permanen saja, menenangkan hati Ibunya sepeninggal Bapaknya. McGregor selalu sesumbar dan menghina Khabib agar mau tanding ulang. Menurut saya: “Fatrukhum”. Tinggalkan saja manusia Jahil Murokkab dari Irlandia itu.

https://www.caknun.com/2021/memedi-gopok/

 

Berlangganan RSS feed