Masuk

Upacara Pengibaran Bendera – Zahrotun Ni’mah, S.Pd. : Teladani Prof. B. J. Habibie yang Memiliki Tekat Kuat, Disiplin, dan Visioner

Featured Upacara Pengibaran Bendera – Zahrotun Ni’mah, S.Pd. : Teladani Prof. B. J. Habibie yang Memiliki Tekat Kuat, Disiplin, dan Visioner

Troso, MAMHTROSO.com – Siswa-siswi MA dan MTs. Matholi’ul Huda Troso ikuti upacara pengibaran bendera pagi ini, Sabtu (28/9/2019). Upacara yang dilaksanakan setiap Sabtu pagi ini bertujuan untuk mengawali minggu efektif proses belajar mengajar siswa. Selain itu juga untuk memupuk sikap disiplin, patriotisme, dan nilai-nilai positif lainnya.   

Perwakilan Kelas XI Madrasah Aliyah Matholi’ul Huda Troso kali ini berkesempatan untuk mengemban tugas sebagai petugas upacara. Meskipun kurang maksimal, namun semuanya dapat berjalan dengan cukup baik. Mengingat ini adalah kali pertama mereka menjadi petugas upacara. Sebagai Pembawa Acara adalah Layinatus Sifah (XI MIA-2), Pembaca Pembukaan UUD 1945 adalah Ira Vivi Faridah (XI MIA-1), dan pembaca doa adalah Mohamad Sahal Abdan (XI MIA-1). Sementara Muhammad Sholikul Huda (XI MIA-1) bertindak sebagai pemimpin upacara, sedangkan pemimpin pasukan berurutan adalah Muhammad Hadi Khoirun Nasirin (XI IIS-3), Muhammad Ilham Syah (XI MIA-2), dan Septian Hidayat (XI MIA-1).

Kemudian untuk pasukan pengibar bendera terdiri dari 8 pasukan. Mereka adalah Lailatul Munawaroh (XI MIA-1), Abida Ardelia (XI MIA-1), Daru Puji Astuti (XI MIA-1), Nadia Nor Inayah Ulya (XI MIA-2), Nur Failah Isnaini (XI IIS-2), Rismawanty (XI IIS-3), Nafisatun Niswah (XI IIS-3), dan Salmah (XI MIA-2).

Zahrotun Ni’mah, S.Pd. bertindak sebagai pembina upacara. Salah satu guru di MTs. Matholi’ul Huda Troso ini sebelum menyampaikan amanatnya, terlebih dahulu mengevaluasi jalannya upacara. Beliau mengingatkan bahwa meskipun petugas sudah melaksanakan tugasnya dengan cukup baik, tetapi masih ada beberapa peserta upacara yang kurang khidmat mengikuti upacara pengibaran bendera ini.  

Pada amanatnya, beliau menyampaikan sosok yang menginspirasi bagi bangsa Indonesia yang baru beberapa minggu kemarin meninggal dunia yaitu Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng. Ilmuan yang taat ibadah dan cerdas dengan memiliki IQ 200. Dibanding dengan Isacc Newton yang memiliki IQ 190, dan Albert Enstein IQ-nya 160, ternyata masih tinggi Prof. B.J. Habibie. Dengan kecerdasan dan hasil karya dalam dunia pesawat terbang, beliau menjadi sosok yang tidak hanya dihormati bagi bangsa Indonesia tetapi seluruh dunia menghormatinya. Tentu itu adalah berkat dari ilmu yang dimilikinya.

Maka siswa-siswi sebagai generasi penerusnya harus bisa meneladani ketekuanan beliau dalam menuntut ilmu. Apalagi ilmu dalam islam adalah sesuatu yang mulia kedudukannya dan wajib bagi muslim untuk menuntut ilmu sampai akhir hayat.

 اُطْلُبُوا العِلْمَ مِنَ المَهْدِ إِلى اللَّحْدِ

Artinya : “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat”

Dari keberhasilan Prof. B.J. Habibie sebagai salah satu tokoh nasional, Zahrotun Ni’mah, S.Pd. mengungkapkan setidaknya ada 3 hal yang harus ditiru. Pertama, adalah tekat yang kuat. Prof. B. J. Habibie sejak kecil tertarik dengan pesawat terbang. Dari ketertarikannya itu kemudian beliau sejak kecil bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan berhasil masuk Kkuliah di ITB jurusan tehnik mesin hingga akhirnya berhasil melanjutkan S3 di Jerman. Dari tekat yang menggelora itu digunakan untuk mewujudkan hal yang dicintainya sejak kecil.

Kedua, Kedisiplinan yang tinggi. Prof. B. J. Habibie selama hidupnya menghabiskan waktu 7,5 jam untuk membaca dan menulis. Dari kedisiplinannya itu sehingga banyak sekali ilmu yang serapnya dan dapat menjadikannya sebagai seorang ahli. Kertiga, beliau adalah seorang yang visioner dan fokus. Memiliki tujuan yang jelas dan berusaha dengan kerja keras untuk mewujudkannya.

Dari ketiga hal tersebut di atas, tentu menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk siswa-siswi agar semakin giat dalam belajar. Maka ketika ada siswa yang masih malas-malasan dalam belajar, tidak mau mengerjakan tugas dari gurunya, malas bahkan tidur ketika diajar gurunya di dalam kelas, tidak mematuhi aturan atau tata tertib madrasah adalah siswa-siswi yang rugi. (syah)

Terakhir diperbarui pada Sabtu, 28 September 2019 14:10

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.