Masuk

CERPEN-SELEPAS KEPERGIANMU

Selepas Kepergianmu

Layinatus Sifah 12 MIA 1

Pagi ini mentari belum sepenuhnya muncul, namun gadis yang baru menginjak usia remaja itu sudah terlihat sibuk sekali. Mulai dari menyapu halaman yang dipenuhi dengan daun pohon jambu yang berguguran, menyiram bunga-bunga agar mereka tumbuh dengan indah, lalu menyapu dan mengepel seisi rumah, dan yang terakhir mencuci piring-piring kotor. Laila menyeka keringat yang mengucur dipelipisnya, lelah rasanya selama 3 tahun belakangan ini ia melakukan semua aktivitas itu setiap harinya. Tapi tak apa, Laila dengan senang hati melakukannya. 

 

Kini Laila sudah berdiri didepan cermin sambil menusukkan peniti dikerudung sekolahnya. Sekarang ini Laila sudah menduduki bangku kelas 9 di Madrasah Tsanawiyah. Ia tersenyum menatap pantulan dirinya dicermin lalu berkata "Doakan Laila agar bisa menjadi dokter ya bu."

 

Laila berjalan menuju dapur, sudah ada 2 bungkus nasi uduk dimeja, seperti biasanya. Laila lalu segera mengambil bungkus nasi uduk dan memakannya hingga habis, kemudian disambung dengan segelas air putih.

 

Laila lalu menggendong tasnya dan berjalan keluar rumah. Sudah ada Bapak yang sedang duduk diteras dengan bungkus nasi uduk yang sudah habis serta segelas kopi didepannya. Laila menghampiri Bapak dan berkata "Bapak kalau mau ngopi biar Laila yang buatkan," Bapak menoleh lalu tersenyum "Selagi masih bisa melakukannya sendiri, Bapak akan lakukan" itu adalah jawaban yang sama setiap kali Laila menawarkan bantuan. Lalu jika Laila masih saja terus memaksa ingin membantu, Bapak akan berkata "Bapak yang berkewajiban mengurus kamu, bukan sebaliknya" selalu saja seperti itu. Laila hanya diam mendengar jawban itu. "Apa Mas mu sudah bangun?" tanya Bapak. "Sudah Pak, Mas Farhan sedang mandi." Bapak merogoh sakunya, lalu memberikan uang lima ribu rupiah kepada Laila. Laila menerimanya lalu segera pamit untuk berangkat sekolah.

 

Tiga tahun sudah Ibu pergi meninggalkan Laila, Bapak dan Mas Farhan. Ibu menderita gagal ginjal yang menyebabkannya harus bolak balik kerumah sakit untuk melakukan cuci darah. Segala sesuatu sudah dilakukan namun, Tuhan berkehendak lain. Ibu pergi untuk selamanya, kepergian Ibu membawa duka yang mendalam dihati Laila, Bapak, dan juga Mas Farhan. Bapak yang dulunya humoris, dan selalu bisa membuat orang-orang di sekitarnya tertawa kini menjadi lebih pendiam dan tidak banyak bicara. Mas Farhan yang kini hanya fokus pada pekerjaannya dan jarang dirumah. Dan Laila, yang selalu berharap dan dan berdo'a agar suatu saat nanti, ia menjadi dokter dan menolong banyak nyawa, sesuai dengan permintaan terakhir Ibu. 

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.