Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Lolos Hukuman Dunia, tapi Tangan Kaki Bersaksi di Akhirat

MAMHTROSO.COM -- Sejatinya setiap anggota tubuh akan memberikan kesaksiannya di akhirat tentang apa saja yang dikerjakannya ketika di dunia. 

Orang-orang yang berdusta, menyembunyikan kebenaran, mencuri, dan perbuatan dosa lainnya mungkin saja bisa lolos dari jerat hukum dunia. 

Tetapi anggota tubuh mereka akan menjadi saksi tentang perbuatan-perbuatan mereka di hari pembalasan. Sehingga orang-orang itu memperoleh ganjaran setimpal dari amal-amalnya yang luput dari hukum dunia.  

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (QS Yasin: 65).  

Berdasarkan tafsir Kementerian Agama tentang ayat 65 pada surat Yasin dijelaskan bahwa ketika menerima azab di neraka, ada sebagian orang-orang kafir yang mengingkari perbuatan jahat mereka di dunia yang diterangkan dalam firman Allah SWT: 

ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا وَاللَّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِينَ 

“Kemudian ada jawaban bohong mereka, kecuali berkata, "Demi Allah, ya Tuhan kami, kami mempersekutukan Allah."(QS Al-An'am: 23).

Maka pada ayat 65 ini, Allah mewajibkan mereka menutup mulut-mulut mereka sehingga mereka tidak dapat mengatakan atau mendebat adanya perbuatan mereka. Apalagi tangan-tangan mereka kemudian berbicara dan kaki-kaki mereka menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan, sehingga mereka tidak mungkin lagi mengelak atas perbuatan-perbuatan mereka yang melawan agama. Pada hari akhir ini, kesepakatan dengan seadil-adilnyanya sesuai dengan segala perbuatan mereka di dunia.   

Menurut riwayat Anas bin Malik dikatakan: Dari Anas bin Malik, ia berkata, "Kami sedang berada di sisi Nabi SAW, tiba-tiba beliau tertawa. Kata beliau," Tahukah kamu mengapa saya tertawa? Kami menjawab, "Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu". Beliau menyatakan, "(Saya tertawa) karena adanya pembicaraan antara seorang hamba dengan Tuhannya". Hamba menyatakan, "Wahai Tuhanku, bukankah Engkau telah menyelamatkan aku dari kezaliman?" Ya benar, kamu telah Aku selamatkan," jawab Tuhannya. Hamba berkata, "Sesungguhnya aku tidak akan berada di atas diriku kecuali seorang saksi dari padaku."Tuhannya menjawab, "Cukup, kamu menjadi saksi atas dirimu dan para malaikat pencatat amal juga menjadi saksi.” Nabi SAW lalu berkata "Kemudian mulut hamba yang ditutup, lalu anggota-anggota badan diperintahkan untuk berbicara, "Bicaralah! Kata Nabi SAW lagi, “Maka anggota-anggota badan itu berbicara (sesuai perbuatannya). (HR Imam Abu Ya'la al-Maushuli)  

Banyak ayat-ayat Alquran yang menerangkan tentang persaksian anggota tubuh manusia terhadap perbuatan-perbuatan yang telah mereka lakukan selama hidup di dunia ini, di antaranya adalah firman Allah:  

يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Pada hari, (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang terlebih dahulu mereka kerjakan.” (QS An-Nur: 24) 

Allah menjadikan tangan dan kaki berbicara sebagai saksi karena tanganlah yang melakukan perbuatan itu, sedang kaki ikut menyaksikan apa yang dikerjakan oleh tangan itu. Jadi perbuatan tangan merupakan suatu ikrar atau pengakuan, sedangkan perkataan kaki merupakan persaksian.

Jika semua perbuatan buruk seorang manusia dibukakan dan proposal hidup di dunia dan tidak diketahui orang banyak maka ia merasa malu dan sukar bergabung di muka mereka.

Bahkan banyak pula di antara manusia yang membunuh dirinya karena tidak sanggup menahan rasa malu itu. Di akhirat, mereka akan mengalami apa yang mereka tidak dapat mengalami dan mengaturnya semasa hidup di dunia. 

https://republika.co.id/berita/qiaja7320/lolos-hukuman-dunia-tapi-tangan-kaki-bersaksi-di-akhirat

 

Mengenal Ikhlas, Dasar dari Semua Ibadah

MAMHTROSO.COM -- Ikhlas (berakar kata khalasha) berarti jernih, bersih, murni, dan suci dari campuran dan pencemaran. Dalam konteks amal ibadah, orang ikhlas (mukhlis) adalah orang yang beramal karena Allah semata, menghindari pujian dan perhatian makhluk, dan membersihkan amal dari setiap yang mencemarkannya.

Orang yang mukhlis ialah orang yang tidak peduli, seandainya hilang seluruh penghormatan kepadanya di dalam hati manusia, untuk kebaikan hatinya bersama Allah SWT. Keharusan ikhlas dalam beramal karena perintah Allah berikut

ومَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama dengan lurus” (Qs Al-Bayyinah/98:5).

Kata (حُنَفَاءَ ) yang berarti “agama yang lurus” pada ayat di atas maksudnya adalah terjauhkan dari hal-hal syirik dan menuju kepada tauhid. Di sinilah pentingnya ikhlash dalam selurus amal ibadah, agar amalan tersebut tidak sia-sia dan tidak mendapat adzab dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

KH. Ahmad Dahlan dalam pengajian-pengajiannya sering kali menyebutkan mahfudhad (kata-kata bijak) berikut: Manusia itu semua mati kecuali para orang yang berilmu, semua ornag berilmu dalam kebingungan kecuali mereka yang beramal, mereka yang beramal semuanya dalam kekhawatiran kecuali mereka yang ikhlas.

Sikap ikhlas, niat tulus kepada Allah, menjadi syarat dan dasar semua amal ibadah. Amal yang dilakukan dengan ikhlas pasti akan mendapat ridha dan balasan dari Allah dan sekaligus berdampak baik bagi diri dan lingkungan sosilanya.

Sebaliknya, amal yang tidak ikhlas atau pamer mengharap pujian orang lain, meski bisa berdampak baik bagi orang lain, tetapi akan berdampak buruk bagi diri sendiri dan tidak memperoleh ridha Allah. Setiap amal yang diterima Allah adalah amal yang dilaksanakan berdasarkan kebenaran dan keikhlasan.

Benar maksudnya sesuai dengan syariat, berdasarkan tuntunan, dan mengandung kemaslahatan. Sedangkan yang dimaksud amal yang ikhlas adalah amal yang ditujukan kepada Allah semata.

Diantara ciri penting dari keikhlasan adalah tidak terjebak dalam fanatisme golongan, suku, keluarga, atau kubu. Karena bagi orang yang berjuang membesarkan agama di jalan Allah selalu berlapang dada, luas pergaulannya, dan memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk bersama-sama beramal.

Orang ikhlas akan merasa senang apabila melihat orang lain lebih baik, lebih pandai, lebih mulia akhlaknya dalam beramal. Bukan sebaliknya, iri dan dengki melihat kesuksesan yang dicapai orang lain.

Sifat dan sikap ikhlas dapat dipraktikkan baik untuk diri sendiri maupun dalam berorganisasi. Dalam konteks beramal dan berjuang di Muhammadiyah, orang yang ikhlas tidak pernah terjebak membela kelompoknya sendiri atau memperturutkan pendapatnya sendiri untuk dipaksakan menjadi keputusan organisasi atau orang lai.

Tentu tidak mudah mencapai derajat keilkhlasan yang sempurna dalam seluruh amal perbuatan, tetapi setiap orang harus melatih diri dan berusaha mencapai keikhlasan itu. Melatihkan diri dalam balutan keikhlasan merupakan sikapyang sangat diperlukan dalam memperbaiki kehidupan manusia yang sebenarnya. Sifat ikhlas dapat mengikis sikap hipokrit (kemunafikan) yang sering kali menjadi sumber petaka dalam hidup berorganisasi dan bermasyarakat.

*Mutohharun Jinan, Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Surakarta

Sumber: Majalah SM Edisi 7 Tahun 2017

https://www.suaramuhammadiyah.id/2020/10/15/ikhlas/

https://republika.co.id/berita/qic7p4366/mengenal-ikhlas-dasar-dari-semua-ibadah

 

  • Diterbitkan di Oase
  • 0

بر الوالدين لا يسقط وإن أساءا

السؤال

أمي وأبي يؤذياني كثيرا، وأهم شيء عندهما مصلحتهما، حتى لو كانت على حساب نفسيتي، أصبحت أتمنى الموت بسب هذا الوضع. لا أريد أن أخسرهما، لكني تعبت. لذلك أتعامل معهما ابتغاء وجه الله، لكني أكره وجودهما.
أبي يحب نفسه جدا، وقد كان قاسيا علي منذ صغري، يضربني ويهينني أمام القريب والغريب. رغم أنه شيخ ومحفظ للقرآن الكريم.
أما أمي فتربط رضاها بان أسمع كلامها حتى لو كان حراما، وتدعو علي إذا لم أمتثل أمرها في شيء حرام، مثل أن أكلم خطيبي السابق وأجلس معه إذا زارنا.
أحيانا أرد عليهما بقسوة، لكن هذا نقطة في بحر ما يفعلانه بي. نفسيتي أصبحت مدمرة، وأخاف أن أخسر ديني، ولا أعرف ماذا أفعل؟
فرغم أني أحبهما، لكني أتذكر ما يفعلانه معي في كل موقف.

 

الإجابــة

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:

 فإن كان والداك يؤذيانك، ويسيئان إليك بغير حق، وكانت أمّك تريد منك أن تطيعيها ولو في معصية الله؛ فكل ذلك ظلم محرّم، ولا يجوز لك أن تطيعي والديك، أو غيرهما في معصية الله تعالى.
ومع ذلك فحقّهما عليك لا يسقط بظلمهما أو إساءتهما إليك، فإن الله قد أمر بالمصاحبة بالمعروف للوالدين المشركين اللذين يأمران ولدهما بالشرك. قال تعالى: وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا {لقمان:15}.

وعقد البخاري في كتابه الأدب المفرد بابًا أسماه: باب بر والديه وإن ظلما ـ وأورد تحته أثرًا عن ابن عباس ـرضي الله عنهماـ قال: ما من مسلم له والدان مسلمان، يُصبح إليهما محتسبًا، إلا فتح له الله بابين ـ يعني: من الجنة ـ وإن كان واحدًا فواحد، وإن أغضب أحدهما، لم يرضَ الله عنه حتى يرضى عنه, قيل: وإن ظلماه؟ قال: وإن ظلماه. انتهى.
فحقّ الوالدين عظيم، وفضلهما على الولد كبير، فمهما عمل من البرّ فهو قليل في حقّهما، ففي صحيح مسلم عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لا يجزي ولد والدا، إلا أن يجده مملوكا فيشتريه، فيعتقه.
فعليك ببر والديك والإحسان إليهما، والصبر على ذلك، واحتساب الأجر عند الله تعالى، واحرصي على مخاطبتهما بالأدب والرفق، والتواضع والتوقير؛ قال تعالى: فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا * وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّي ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا الإسراء[23،24].
قال القرطبي -رحمه الله- في تفسيره: (وقل لهما قولا كريما) أي لينا لطيفا مثل: يا أبتاه، ويا أمّاه من غير أن يسميهما، ويكنيهما.

 قال عطاء: وقال بن البداح التجيبي: قلت: لسعيد بن المسيب: كل ما في القرآن من بر الوالدين قد عرفته إلا قوله: وقل لهما قولا كريما، ما هذا القول الكريم؟ قال ابن المسيب: قول العبد المذنب، للسيد الفظ الغليظ. انتهى.
ومما يعينك على ذلك أن تتذكّري أنّ برّ الوالدين من أعظم أسباب رضوان الله ودخول الجنة، ففي الأدب المفرد للبخاري عن عبد الله بن عمر -رضي الله عنه- قَالَ: رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ، وَسَخَطُ الرب في سخط الوالد.
وعن أبي الدرداء أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: الوالد أوسط أبواب الجنة، فإن شئت فأضع هذا الباب، أو احفظه. رواه ابن ماجه والترمذي. قال المباركفوري -رحمه الله- في تحفة الأحوذي: قَالَ الْقَاضِي: أَيْ خَيْرُ الْأَبْوَابِ وَأَعْلَاهَا. وَالْمَعْنَى أَنَّ أَحْسَنَ مَا يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى دُخُولِ الْجَنَّةِ، وَيُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى وُصُولِ دَرَجَتِهَا الْعَالِيَةِ، مُطَاوَعَةُ الْوَالِدِ وَمُرَاعَاةُ جَانِبِهِ. انتهى.
واعلمي أنّ مقابلة السيئة بالحسنة، مما يجلب المودة، ويقي شر نزغات الشيطان؛ قال تعالى: وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ. {فصلت:34}.

فإذا كان ذلك مع بعض الأعداء فكيف بالوالدين اللذين هما أرحم الناس بولدهما؟
 والله أعلم.

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/428662/%D8%A8%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%8A%D9%86-%D9%84%D8%A7-%D9%8A%D8%B3%D9%82%D8%B7-%D9%88%D8%A5%D9%86-%D8%A3%D8%B3%D8%A7%D8%A1%D8%A7

 

The Position of Islam on Scientology

Question:

What is the position of Islam on Scientology? Can a Muslim become a Scientologist?

 

Answer:

Short Answer:

  • To begin, in principle, the relation of the Muslim with those of other faith traditions is founded on mutual respect and understanding.
  • Secondly, the Quran and hadith specifically state that there is no compromise on Islamic creed.
  • Thirdly, the Quran emphasizes that there is no secrecy in the teachings and acts of worship in Islam.
  • Lastly, the Quran states that there should be no monetization of the teachings and acts of worship in Islam accordingly.
  • Accordingly, in addition to the evident fact that a Muslim does not need to join Scientology, it is not permissible for a Muslim to become a Scientologist.

………….

Before presenting the stance of Islam on Scientology, I need to be highlight several facts to clarify the under-structure. 

Respect for Humans of All Faiths

To begin, in principle, the relation of the Muslim with those of other faith traditions is founded on mutual respect and understanding.

“O humanity! Indeed, We created you from a male and a female, and made you into peoples and tribes so that you may ˹get to˺ know one another. Surely the most noble of you in the sight of Allah is the most righteous among you. Allah is truly All-Knowing, All-Aware.” (Quran 49:13.)

“O believers! Do not insult what they invoke besides Allah or they will insult Allah spitefully out of ignorance. This is how We have made each people’s deeds appealing to them. Then to their Lord is their return, and He will inform them of what they used to do.” (Quran 6:108.)

Insulting false deities and their worshippers is forbidden regardless of the result that such conduct may lead to. 

No Compromise on Islamic Creed

Secondly, the Quran and hadith specifically state that there is no compromise on Islamic creed:

“Certainly, Allah’s only Way is Islam. Those who were given the Scripture did not dispute ‘among themselves’ out of mutual envy until knowledge came to them. Whoever denies Allah’s signs, then surely Allah is swift in reckoning.” (Quran 3:19.)

“If one seeks a faith other than Islam, it will never be accepted from them, and in the Hereafter they will be among the losers.” (Quran 3:85.)

“Today I have perfected your faith for you, completed My favour upon you, and chosen Islam as your way.” (Quran 5:3.)

Jabir said that when ‘Umar came to the Prophet saying, “We hear from Jews traditions which charm us, so do you think we should write down some of them ?” he replied, “Are you in a state of confusion as the Jews and the Christians were? I have brought them to you white and pure, and if Moses were alive he would feel it absolutely necessary to follow me.” (Ahmad and Shu’ab Al-Iman.)

No Secrecy in the Teachings and Acts of Worship in Islam

Thirdly, the Quran emphasizes that there is no secrecy in the teachings and acts of worship in Islam. This is set out in the following verses:

Say, O Prophet, “This is my way. I invite to Allah based on clear and sure knowledge —I and those who follow me. Glory be to Allah, and I am not one of the polytheists.” (Quran 12:108.)

“Proclaim publicly what you are commanded to and turn away from those who ascribe partners to Allah.”(Quran 15:94.)

“Let there be no compulsion in religion, for the truth stands out clearly from falsehood.” (Quran 2:256.)

No Monetization of the Teachings and Acts of Worship in Islam

Lastly, the Quran states that there should be no monetization of the teachings and acts of worship in Islam accordingly:

Say, O Prophet, “I ask no reward of you for this guidance—it is a reminder to the whole world.” (Quran 6:90.)

“Follow those who do not ask you for any payment; they are rightly guided.” (Quran 36:21.)

“Or are you ‘O Prophet’ asking them for a reward for the message so that they are overburdened by debt?” (Quran 52:40.)

The Islamic Ruling on Joining Scientology

Accordingly, in addition to the evident fact that a Muslim does not need to join Scientology, it is not permissible for a Muslim to become a Scientologist.

Applying Scientology the Practice of Auditing for Psychological Benefit

Auditing is a process whereby the auditor takes an individual through times in their current or past lives to rid the individual of negative influences from past events or behaviors. 

In Islam, auditing is only permissible if it is a medically established and scientifically proven benefit. Noteworthy, a Muslim must ensure that their privacy is maintained and their money spent rationally.

Abu Huraira reported: The Messenger of Allah, peace and blessings be upon him, said, “The word of wisdom is the lost property of the believer. Wherever he finds it, he is most deserving of it.” (Sunan al-Tirmidhī 2687.)

“Surely those who misuse their wealth are following Satan in the same way that Satan proved to be ungrateful to his Sustainer.” (Quran 17:27.)

Abu Barzah (May Allah be pleased with him) reported: The Messenger of Allah (PBUH) said, “Man’s feet will not move on the Day of Resurrection before he is asked about his life, how did he consume it, his knowledge, what did he do with it, his wealth, how did he earn it and how did he dispose of it, and about his body, how did he wear it out.” [At-Tirmidhi.]

Cooperating with Scientology Affiliated Entities for Charitable and Philanthropic Causes

The directives of the Noble Quran and the authentic traditions of Prophet Muhammad, as well as the practices of his rightly-guided caliphs, indicate that Islam aims to open the door to cooperation with all based on benevolence, righteousness, peace, and security for all.

Muslims are urged to partake in such cooperation with any individual, state or community who seeks it. Additionally, Muslims are prohibited to be part of any cooperation that is based on or would lead to injustice, oppression, or violence. In this respect, Allah the Almighty says:

Cooperate with one another in goodness and righteousness, and do not cooperate in sin and transgression. And be mindful of Allah. Surely Allah is severe in punishment. (Quran 5:2.)

“As for non-Muslims who do not fight you on account of your faith, or drive you forth from your homelands, Allah does not forbid you to show them birr (kindness, love, and respect) and to deal with them with equity, for Allah loves those who act equitably.” (Quran 60:8.)

And Allah knows best.

I hope this helps.

Walaikum Assalam Wa Rahmatullahi Wa Barakatuh.

https://aboutislam.net/counseling/ask-about-islam/the-position-of-islam-on-scientology/

 

 
Berlangganan RSS feed