Masuk

Kita Tidak Bisa Menyenangkan Semua Orang

MAMHTROSO.COM -- Alkisah pada suatu hari seorang pengusaha mebel mendapati seorang pria datang memarahi dirinya. Orang tersebut datang dengan membawa sebuah kursi sofa yang terbuka jahitannya. Ia marah karena merasa sudah membeli dengan harga cukup mahal, tetapi ternyata sofa itu mudah rusak.

Dengan sabar, si pemilik toko pun meladeni dengan penuh perhatian. Singkatnya, ia pun bersedia membantu mereparasi sofa itu dan mengembalikannya dalam keadaan yang utuh. Mendengar itu, redalah kemarahan si pemilik sofa. Ia pun pergi meninggalkan sofanya untuk diperbaiki.

Sepeninggalnya, anak pemilik toko mebel itu bertanya kepada ayahnya. “Ayah, mengapa mau saja memperbaiki sofa itu. Ayah tentu tahu itu bukan sofa yang dibeli dari toko kita.” Di sekitar toko itu memang ada beberapa toko mebel lain dengan desain yang satu sama lain saling memiliki kemiripan.

Dengan sabar, si ayah memberi tahu putranya. “Camkan ini baik-baik anakku. Memang, ayah tahu ini bukan sofa yang kita jual. Tapi, dengan aku membantunya, ia akan datang ke sini lagi. Dengan begitu, kita akan memiliki pelanggan baru,” ujarnya menjelaskan.

 

Begitulah, si pemilik toko mebel mengubah ketidakpuasan menjadi sebuah keuntungan. Dan memang, dalam kisah selanjutnya, si orang yang mengeluhkan kerusakan sofa itu menjadi pelanggan setia toko mebel itu.

Pembaca yang Bijaksana,

Kisah yang konon berasal dari pengalaman sebuah toko mebel ternama dari Amerika Serikat ketika sedang di masa-masa awal membangun bisnisnya itu bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua. Yakni, bahwa tak selamanya ketidakpuasan itu berdampak negatif. Maka, kalimat dalam judul bahwa kita tak bisa menyenangkan semua orang seharusnya bisa kita sikapi dengan cara yang bijak. Sebab, bisa saja, ketidakpuasan yang diungkap malah akan jadi evaluasi—atau bahkan peluang—untuk memberikan pelayanan yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Memang, bukan hal yang mudah. Berbagai upaya pelayanan yang diberikan sering kali masih saja berujung pada ketidakpuasan konsumen.  Jika suara sumbang sudah menyebar dan menjadi pembicaraan di mana-mana, akan sulit untuk menanganinya. Karena itu, butuh “pelayanan” ekstra hati-hati untuk menangani aduan konsumen.

Harus dipahami bahwa setiap orang, setiap konsumen, tiap pelanggan yang datang pasti punya karakter dan kemauan sendiri-sendiri. Kadang-kadang, karena merasa menjadi “raja”, ada pula yang berlaku seenaknya. Untuk itu, memang membutuhkan teknik serta kesabaran tersendiri saat menghadapi kondisi tersebut.

Jika kita membuka layanan customer service (CS), sudah selayaknya semua yang terlibat di dalamnya mampu bersikap sabar, berpikir terbuka, dan berjiwa lapang. Sebab, bagian CS ini biasanya akan jadi ujung tombak pencitraan perusahaan, baik disadari atau tidak. Jika berhasil memberikan solusi layanan yang terbaik, bisa jadi orang akan selalu merekomendasikan produk atau bisnis yang kita jalani kepada orang lain. Bukan mustahil kekecewaan yang terjadi segera berbalik menjadi simpati.

 

Mari, ubah ketidakpuasan yang muncul menjadi sebuah pembelajaran. Yakni, pembelajaran untuk jadi lebih baik, lebih dewasa, dan lebih berkembang.  Dengan begitu, saat kita tak bisa menyenangkan semua orang, justru akan jadi evaluasi terbaik untuk memajukan perusahaan.

Terus berinovasi, terus perbaiki layanan. Salam sukses, luar biasa!!!

https://andriewongso.com/kita-tidak-bisa-menyenangkan-semua-orang/

Lebih lanjut dalam kategori ini: « Cobalah Dahulu Manisnya Hidup yang Kita Tentukan »

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.