Masuk

Allah tidak Melihat Rupa, tetapi Amal

MAMHTROSO.COM -- Di setiap komunitas atau masyarakat, tentunya ada berbagai cara untuk mengukur dan menilai satu sama lain. Kita umumnya menilai seseorang dengan mengukur berapa banyak uang yang dihasilkan, kekayaan berupa mobil, rumah, tabungan dan aset, dan sebagainya.

Ukuran lain yang kerap menjadi penilaian ialah penampilan fisik dan karakteristik etnis, seperti tinggi badan, berat badan, usia, asal muasal, bahasa, warna kulit, atau budaya. Namun, manusia tentunya memiliki sedikit kendali dan tidak bisa memilih di mana tempat kelahiran mereka, warna kulit, atau kekayaan mereka.

Karena itu, Hazem Said dalam artikelnya yang dimuat di laman About Islam, dilansir Selasa (21/9), menyebutkan tidaklah adil atau bijaksana menilai seseorang berdasarkan karakteristik yang tidak dapat mereka pilih atau kuasai. Lantas, atas dasar apa kita seharusnya menilai satu sama lain dan diri kita sendiri?

Hazem Said telah aktif di komunitas Muslim di Amerika selama lebih dari 10 tahun dan memegang banyak posisi kepemimpinan yang berbeda. Dalam artikelnya itu, Said mengatakan manusia sejatinya memiliki kendali atas keputusan yang mereka buat.

Pilihan dan keputusan itu adalah standar yang jauh lebih baik untuk menilai kemajuan dan pencapaian dalam hidup. Menurut Said, seseorang mengendalikan sendiri apa yang ia yakini, apa yang ia terima dan ia tolak.

Manusia sendiri yang memilih tujuan hidupnya dan kode etik untuk diikuti. Karena itu, Said mengatakan tindakan kita adalah hasil dari keputusan yang kita buat.

Sebab, kita sendiri yang memutuskan apa yang harus dilakukan dengan waktu kita, di mana menghabiskan kekayaan kita, dan apakah kita ingin bersikap jujur atau tidak. "Semua tindakan kita adalah hasil dari keputusan kita. Karena itu, kita harus menahan diri tidak menghakimi orang, secara individu atau kolektif, berdasarkan keadaan, penampilan, atau kelas mereka," kata Said.

Sebaliknya, Said mengatakan seseorang perlu menahan penilaian sampai mereka mendidik diri mereka sendiri tentang orang lain, nilai-nilai, keyakinan, dan tindakan yang orang lain ambil. Di samping itu, Said mengatakan seseorang tidak seharusnya merasa istimewa karena keadaan mereka sendiri yang menguntungkan, tetapi harus menyadari ukuran yang sebenarnya adalah keputusan yang dibuat dan tindakan yang dilakukan.

Menurutnya, di hadapan Allah, apa yang ada di hati kita dan tindakan yang dihasilkan dari keputusan kitalah yang membedakan di antara kita sebagai sesama manusia. Said menyebutkan dasar yang harus diambil dalam mengukur dan menilai satu sama lain itu mengacu pada sebuah hadits Rasulullah SAW.

Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik dan harta kalian, tetapi Ia melihat hati dan amal kalian." (HR. Bukhari).

https://www.republika.co.id/berita/qzsaz3366/allah-tidak-melihat-rupa-tetapi-amal-part1

 

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.