Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

CERPEN-SINGGAH SEBENTAR

SINGGAH SEBENTAR

(Nilam Maharani XII Mia-2)

          Waktu itu, aku yang masih duduk di bangku kelas 10 terlihat ada anak baru tiba-tiba masuk kelasku yang pada saat itu pelajaran fisika. Aku sontak kaget, anak baru kok kelihatan tua. Usut punya usut, ternyata dia dulunya pernah putus sekolah dan sekarang lanjut sekolah lagi. Bel berbunyi, waktu tanda istirahat. Satu kelas berkumpul saling berkenal-kenalan dengan anak baru itu kecuali aku dan teman sebangkuku. Karena aku dan teman sebangku aku berpikiran bahwa anak baru itu terlihat nakal, maka dari itu kita tak suka dan tak mau berkenalan.

          Satu minggu berjalan anak itu masih terlihat di kelas. selang beberapa hari, anak baru itu tak masuk kelas tanpa izin selama satu minggu. "Kenapa? kenapa?" tanya teman-teman kelasku. Ternyata ada yang tetangga anak baru itu, kemudian membujuknya agar bersekolah lagi tapi anak baru itu tak mau. Alasannya hanya karena bosan sekolah dan enak bekerja.

          Dua tahun berlalu, tanpa sengaja aku bertemu dengannya di suatu toko. Berubah 180 derajat, dulunya yang masih biasa-biasa saja ternyata sekarang sudah berubah total. Aku melihatnya sambil membatin dalam hati, "Ya Allah, ternyata itu teman yang aku benci dulu dan alhamdulillah aku masih sama yang dulu".

CERPEN-SELEPAS KEPERGIANMU

Selepas Kepergianmu

Layinatus Sifah 12 MIA 1

Pagi ini mentari belum sepenuhnya muncul, namun gadis yang baru menginjak usia remaja itu sudah terlihat sibuk sekali. Mulai dari menyapu halaman yang dipenuhi dengan daun pohon jambu yang berguguran, menyiram bunga-bunga agar mereka tumbuh dengan indah, lalu menyapu dan mengepel seisi rumah, dan yang terakhir mencuci piring-piring kotor. Laila menyeka keringat yang mengucur dipelipisnya, lelah rasanya selama 3 tahun belakangan ini ia melakukan semua aktivitas itu setiap harinya. Tapi tak apa, Laila dengan senang hati melakukannya. 

 

Kini Laila sudah berdiri didepan cermin sambil menusukkan peniti dikerudung sekolahnya. Sekarang ini Laila sudah menduduki bangku kelas 9 di Madrasah Tsanawiyah. Ia tersenyum menatap pantulan dirinya dicermin lalu berkata "Doakan Laila agar bisa menjadi dokter ya bu."

 

Laila berjalan menuju dapur, sudah ada 2 bungkus nasi uduk dimeja, seperti biasanya. Laila lalu segera mengambil bungkus nasi uduk dan memakannya hingga habis, kemudian disambung dengan segelas air putih.

 

Laila lalu menggendong tasnya dan berjalan keluar rumah. Sudah ada Bapak yang sedang duduk diteras dengan bungkus nasi uduk yang sudah habis serta segelas kopi didepannya. Laila menghampiri Bapak dan berkata "Bapak kalau mau ngopi biar Laila yang buatkan," Bapak menoleh lalu tersenyum "Selagi masih bisa melakukannya sendiri, Bapak akan lakukan" itu adalah jawaban yang sama setiap kali Laila menawarkan bantuan. Lalu jika Laila masih saja terus memaksa ingin membantu, Bapak akan berkata "Bapak yang berkewajiban mengurus kamu, bukan sebaliknya" selalu saja seperti itu. Laila hanya diam mendengar jawban itu. "Apa Mas mu sudah bangun?" tanya Bapak. "Sudah Pak, Mas Farhan sedang mandi." Bapak merogoh sakunya, lalu memberikan uang lima ribu rupiah kepada Laila. Laila menerimanya lalu segera pamit untuk berangkat sekolah.

 

Tiga tahun sudah Ibu pergi meninggalkan Laila, Bapak dan Mas Farhan. Ibu menderita gagal ginjal yang menyebabkannya harus bolak balik kerumah sakit untuk melakukan cuci darah. Segala sesuatu sudah dilakukan namun, Tuhan berkehendak lain. Ibu pergi untuk selamanya, kepergian Ibu membawa duka yang mendalam dihati Laila, Bapak, dan juga Mas Farhan. Bapak yang dulunya humoris, dan selalu bisa membuat orang-orang di sekitarnya tertawa kini menjadi lebih pendiam dan tidak banyak bicara. Mas Farhan yang kini hanya fokus pada pekerjaannya dan jarang dirumah. Dan Laila, yang selalu berharap dan dan berdo'a agar suatu saat nanti, ia menjadi dokter dan menolong banyak nyawa, sesuai dengan permintaan terakhir Ibu. 

Cerpen - Kurangin Insecure Banyakin Bersyukur

Kurangin Insecure Banyakin Bersyukur

Fitakhul Khasanah (XII IIS-2)

 

      Seorang siswi bernama Ana merupakan salah satu siswi yang pandai dan cantik di sekolahnya. Tak jarang semua siswi satu kelasnya merasa iri dengannya, salah satunya adalah Elsa, ia gadis yang suka insecure jika melihat Ana. Hingga suatu hari Elsa mengajak Ana untuk belajar bersama di perpustakaan saat jam istirahat.

"An, yuk ke perpustakaan. Aku mau belajar bareng sama kamu." Ucap Elsa,

"Ayo El, dengan senang hati." Jawab Ana sambil tersenyum pada Elsa.

Sesampainya di perpustakaan, pada 10 menit awal mereka memang belajar. Setelah beberapa menit kemudian, Elsa membuka pembicaraan.

"An, kamu tuh ya udah pintar, cantik lagi. Gak kayak aku udah gak pintar, buriq pula." Ucap Elsa yang merasa kurang dari Ana.

"Elsa, kamu gak boleh ngomong kayak gitu, ingat manusia itu diciptakan dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing." Kata Ana yang belum selesai namun sudah dipotong Elsa.

"Iyaaa dan aku diciptakan hanya dengan kekurangan tanpa kelebihan."

"Husss, cukup jangan ngerendahin diri sendiri dan jangan su'udzon sama Allah. Kamu itu cuma belum menemukan kelebihan kamu saja, coba deh pasti ada satu sisi atau kamu punya kemampuan apa gitu, kamu bisa ngembangin itu." Kata Ana.

"Tapi, aku gak punya bakat apapun, An." Ucap Elsa yang merasa dirinya tak punya bakat yang bisa dibanggakan.

"Kalau kamu belum punya bakat, kan semua hal bisa dipelajari El. Jadi, kamu harus rajin belajar. Syukur-syukur kamu punya minat di bidang apa gitu, terus kamu bisa mempelajarinya." Kata Ana.

"Iya sih, sebenarnya aku punya minat di bidang olahraga basket. Tapi, aku malu masa cewek main basket." Ucap Elsa.

"Udah gak usah malu, jalanin aja dulu. Lagian kan jarang-jarang cewek suka main basket apalagi jago main basket. Aku aja gak bisa El, main basket." Ucap Ana memberi saran pada Elsa dan dijawab Elsa, "Iya udah, aku bakal ngembangin minat aku di bidang ini, makasih sarannya."

"Iya, sama-sama." Jawab Ana.

      Berhubung sebentar lagi jam istirahat selesai, mereka berdua pun kembali ke kelas. Dalam perjalanan menuju kelas Elsa kembali berbicara, "Emmm, An tapi kan aku juga ingin cantik kayak kamu." Mendengar itu, Ana pun menghentikan perjalanannya lalu menoleh ke Elsa dan berkata, "Ya ampun Elsa, kamu itu udah cantik kok, lagian cantik fisik aja gak mastiin hatinya baik kan, mending juga cantik dari dalam. Coba deh kamu buat percaya diri dan banyakin senyum pasti kecantikan kamu bakal terpancar dengan sendirinya. Dan satu lagi, cantik itu relatif semua wanita punya ciri khas kecantikannya masing-masing."

Jawaban Ana yang panjang lebar itu berhasil membuat Elsa sadar.

"Jadi, sekarang kamu harus bersyukur dengan apa yang Tuhan kasih ke kamu." Tambah Ana.

"Iya An, makasih ya sarannya, mulai sekarang aku bakal ngurangin insecure dan banyakin bersyukur."

Lalu mereka pun melanjutkan perjalanan mereka dan kembali ke kelas mereka masing-masing.

Kisah Murid SD AS, Semangat Pelajari Alam Terbuka di Tengah Dinginnya Salju

MAMHTROSO.COM -- Pandemi Virus Corona COVID-19 di Amerika Serikat tidak lagi menjadi halangan untuk mengajak para murid sekolah dasar di negara tersebut untuk keluar dari ruangan kelas mereka. Lalu mempelajari alam terbuka. 

Di sebuah sekolah di Portlant, Maine, AS seorang guru bernama Cindy Soule dan murid-murid kelas 4 SD melakukan pembelajaran tatap muka di luar ruangan, sebagai upaya menghindari penyebaran COVID-19, seperti dikutip dari VOA Indonesia, Senin (4/1/2021). 

Para murid itu pun tetap semangat belajar di alam terbuka, meski salju melanda dan suhu mencapai titik beku.

Dengan baju hangat dan masker, para murid SD itu berjalan keluar sambil menenteng ember berisi pensil dan papan klip, tanpa terpengaruh oleh salju yang mengguyur. 

Murid-murid tersebut mempelajari berbagai hal terkait tanaman di taman komunitas, mulai dari penyerbukan, erosi yang merusak pohon, hingga kotoran beruang.

Selain itu, mereka juga belajar tentang salju dan bagaimana kepingan salju terbentuk.

Bentuk kepingan salju terinspirasi dari karya foto mendiang ahli meteorologi asal Vermont, AS, Wilson Bentley, yang dikenal dengan panggilan "Snowflake Bentley."

Bentley adalah orang pertama yang menjepret foto kepingan salju secara detil. Dalam pengamatannya, disebutkan bahwa setiap kepingan salju memiliki bentuk yang berbeda.

Pengamatan pada kepingan-kepingan salju itu pun dilakukan oleh para murid Cindy dengan menggunakan kaca pembesar.

Kepada Associated Press, Cindy Soule menyampaikan; "Setelah memikirkan kembali apa yang bisa kita lakukan di sekolah, sangat jelas terlihat bahwa banyak kesempatan belajar yang luar biasa di alam sekitar kita". 

Sistem pendidikan di kota Portland mengidentifikasi 156 lokasi pembelajaran di luar ruang di sebanyak 17 gedung.

Menurut Brooke Teller, koordinator bagian pembelajaran di luar ruang, beberapa diantaranya masih digunakan selama musim dingin ini. 

"Ini bukan hanya sekadar mengajar dengan menggunakan yang ada di alam terbuka, tetapi hanya mengadaptasi apa yang telah dilakukan dan berada di alam bebas, agar tidak berada di ruangan yang tertutup, sehingga membuat kita merasa lebih aman," jelas Brooke Teller.

https://www.liputan6.com/global/read/4448571/kisah-murid-sd-as-semangat-pelajari-alam-terbuka-di-tengah-dinginnya-salju

 

  • Diterbitkan di Unik
  • 0
Berlangganan RSS feed