Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Terlalu Mengerikan, Kepolisian New York Hentikan Penggunaan Anjing Robot

MAMHTROSO.COM -- Kepolisian Kota New York (NYPD) di Amerika Serikat mengatakan mereka akan menghentikan penggunaan anjing robot setelah adanya protes keras.

Dilansir BBC, Minggu (2/5/2021) NYPD mengatakan bahwa pihaknya telah mengakhiri kontrak dengan perusahaan Boston Dynamics, produsen robot bernama 'Digidog' yang dikendalikan dari jarak jauh.

Sejak akhir 2020, NYPD sudah menjalankan percobaan anjing robot ini, diharapkan bisa membantu "menyelamatkan nyawa, melindungi orang, dan petugas kepolisian".

Namun sayangnya, penggunaan anjing robot ini telah memicu reaksi negatif ketika kinerja kepolisian sedang diperhatikan banyak pihak.

Rekaman robot yang dikerahkan dalam situasi penyanderaan dan sedang berpatroli di perumahan warga menjadi viral.

Para kritikus menyebut pengerahan Digidog sebagai lambang betapa agresif petugas kepolisian saat menghadapi masyarakat komunitas pinggiran.

Mereka berpendapat bahwa insiden tersebut juga menunjukkan peningkatan militerisasi pasukan kepolisian di seluruh Amerika Serikat.

https://www.liputan6.com/global/read/4547087/terlalu-mengerikan-kepolisian-new-york-hentikan-penggunaan-anjing-robot

 

  • Diterbitkan di Unik
  • 0

What Are the Rulings and Etiquettes of Eid?

Question:

As-salamu `alaykum. Could you please clarify the etiquette and rulings of `Eid?

 

Answer:

Wa `alaykum as-Salamu wa Rahmatullahi wa Barakatuh.

In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.


In this fatwa:

Eid, in Islam, is a day of joy, thanksgiving, worship, brotherhood, solidarity, and morality. A Muslim should take the advantage of this day to bring himself nearer to Allah, Most High.


As regards your question, Sheikh M. S. Al-Munajjid, a prominent Saudi Islamic lecturer and author, states:

The Prophet (peace and blessings be upon him) said, “Every nation has its festival, and this is your festival.” Here, he referred to the fact that these two Eids are exclusively for the Muslims.

The Muslims have no festivals apart from Eid al-Fitr and Eid al-Adha Anas ibn Malik (may Allah be pleased with him) said: “The Messenger of Allah came to Madinah, the people of Madinah used to have two festivals.

On those two days, they had carnivals and festivity. The Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him) asked the Ansar (the Muslims of Madinah) about it.

They replied that before Islam, they used to have carnivals on those two joyous days. The Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him) told them, “Instead of those two days, Allah has appointed two other days which are better, the days of Eid al-Fitr and Eid al-Adha.” (Abu Dawud)

These two Eids are among the signs of Allah, to which we must show consideration and understand their objectives. Below, we will elaborate the rulings and etiquette of Eid.

Rulings of Eid

1- Fasting: It is haram to fast on the days of Eid because of the hadith of Abu Sa`id Al-Khudri (may Allah be pleased with him) in which he said that the Messenger of Allah (peace and blessings be upon him) forbade fasting on the day of Fitr and the day of Adha. (Muslim)

2- Offering Eid Prayers: Some of the scholars say that Eid Prayers are obligatory – this is the view of the Hanafi scholars and of Ibn Taymiyyah. Some scholars say that Eid Prayer is Fard Kifayah (a communal duty, binding on the Muslims as a group, and it is fulfilled if a sufficient number of people perform it, thereby absolving the rest of sin). This is the view of the Hanbalis. A third group says that Eid Prayer is Sunnah Mu’akkadah (confirmed sunnah). This is the view of the Malikis and Shafi`is.

3- Offering Supererogatory Prayers: There are no Supererogatory Prayers to be offered either before or after the Eid Prayer, as Ibn `Abbas reported that the Prophet (peace and blessings be upon him) used to come out on the day of Eid and pray two rak`ahs, with nothing before or after them. This is the case if the Prayer is offered in an open area. If, however, the people pray the Eid Prayer in a mosque, then they should pray two rak`ahs for Tahiyat Al-Masjid.

4- Women attending the Eid Prayers: According to the Sunnah of the Prophet (peace and blessings be upon him), everyone is urged to attend Eid Prayer, and to co-operate with one another in righteousness and piety. The menstruating woman should not forsake the remembrance of Allah or places of goodness such as gatherings for the purpose of seeking knowledge and remembering Allah – apart from mosques. Women, undoubtedly, should not go out without the Hijab.

Etiquettes of Eid

1- Ghusl (taking a bath): One of the good manners of Eid is to take a bath before going out to the Prayer. It was reported that Sa`id ibn Jubayr said: “Three things are Sunnah on Eid: to walk (to the prayer-place), to take a bath, and to eat before coming out (if it’s Eid al-Fitr).”

2- Eating before coming out: One should not come out to the prayer-place on Eid al-Fitr before eating some dates, because of the hadith narrated by Al-Bukhari from Anas ibn Malik who said: “The Messenger of Allah (peace and blessings be upon him) would not go out in the morning of Eid al-Fitr until he had eaten some dates… and he would eat an odd number.” On Eid al-Adha, on the other hand, it is recommended not to eat until after the Prayer, when one should eat from the meat of one’s sacrifice.

3- Takbir on the day of Eid: This is one of the greatest Sunnahs of this day. Al-Daraqutni and others reported that when Ibn `Umar came out on Eid al-Fitr and Eid al-Adha, he would strive hard in making Takbir until he reached the prayer-place, then he would continue making Takbir until the Imam came.

4- Congratulating one another: People may exchange congratulations and good greetings on Eid, no matter what form the words take. For example, they may say to one another, “Taqabbal Allahu minnaa wa minkum (May Allah accept, from us and from you, our good deeds!)”.

Jubayr ibn Nufayr said: “At the time of the Prophet (peace and blessings be upon him) when people met one another on the day of Eid, they would say, ‘Taqabbal Allahu minnaa wa minka.’” (Ibn Hajar)

5- Wearing one’s best clothes for Eid: Jabir (may Allah be pleased with him) said: “The Prophet (peace and blessings be upon him) had a Jubbah (cloak) that he would wear on Eid and on Fridays.” Al-Bayhaqi reported that Ibn `Umar used to wear his best clothes on Eid, so men should wear the best clothes they have when they go out for Eid.

6- Changing route on returning from Prayer-place: Jabir ibn `Abdullah (may Allah be pleased with him) reported that the Prophet (peace and blessings be upon him) used to change his routes on the day of Eid. (Al-Bukhari)

Allah Almighty knows best.

Editor’s note: This fatwa is from Ask the Scholar’s archive and was originally published at an earlier date.

Source: Excerpted, with slight modifications, from, www.islamqa.info

https://aboutislam.net/counseling/ask-the-scholar/arts-entertainment/eid-etiquette-and-rulings/

 

Empat Huruf Pemecah Langit

MAMHTROSO.COM -- Kalau ada yang ingin tahu atau ada petugas sensus yang ingin mendata di mana alamat Tuhan, asal-usul kampung halamannya dll, KiaiKanjeng bisa mengupayakan. Sebab tamu yang naik ke panggung KiaiKanjeng di Simpang Lima Semarang malam itu berteriak bahwa ia sudah tahu siapa Tuhan dan di mana alamatnya. Ia menyebut “Tuhan itu asalnya dari Blora”.

Lelaki itu besar tinggi tubuhnya, umur setengah baya. Mendadak naik ke panggung Maiyahan KiaiKanjeng, langsung mengambil mikrofon dan berteriak seperti sedang berorasi. Para petugas keamanan, termasuk sejumlah polisi, tampak mulai bergerak dan berhamburan menuju panggung untuk menghentikan ulah tamu liar itu.

Tapi sebagaimana biasa terjadi di banyak tempat lain sebelumnya, saya menghalangi gerak para petugas keamanan dengan kode dari dua tangan saya. Wajah dan beberapa kata saya ucapkan untuk meminta mereka agar bersikap tenang saja. Kemudian saya mendekati lelaki gagah itu, saya pegang bahu tangannya, saya rangkul pundaknya, saya peluk dan saya seret untuk duduk bersama saya. Sambil saya bisikkan sesuatu yang saya konsentrasikan menembus lubang telinga kirinya.

Allah tidak tega kepada saya, maka ikhtiar penanganan saya itu didukung oleh-Nya. Sang lelaki tenang duduk di sebelah kanan saya. Saya sentuh terus lututnya. Ia mengikuti acara KiaiKanjeng, sampai beberapa saat kemudian saya bisiki, saya bimbing berdiri kemudian saya antar turun lewat samping panggung.

Hal yang sama terjadi di sebuah lapangan di Pontianak. Yang naik adalah anak muda, menggembol tas. Begitu mendekat dua langkah ke saya, ia mengeluarkan isi tasnya, membantingnya, kemudian menangis di pelukan saya. Isi tasnya adalah sejumlah pakaian dan alat sehari-hari, kemudian beberapa botol minuman keras. Dia minta agar saya membuang atau membakar botol-botol itu. Berikutnya malah saya kasih mikrofon. Ia mengemukakan kepada hadirin: “Tadi saya lewat ada ramai-ramai di sini, saya kira pentas dangdut, maka saya datang dan mendekati panggung. Ternyata kok acaranya Cak Nun dan KiaiKanjeng. Saya langsung seperti ditampar entah oleh apa. Saya langsung menangis dan berlari naik panggung. Hidup saya rusak. Dengan ini secara resmi saya memohon bimbingan untuk kembali ke jalan yang benar”.

Besoknya menjelang balik ke Yogya, saya ajak dia ikut acara di Rumah Rutan Pontianak.

Di Magetan tamu mendadak ke panggung KiaiKanjeng tidak sendirian. KiaiKanjeng baru menata-nata gamelannya, seorang lelaki usia sekitar 40 tahunan hanya pakai celana pendek dengan selempang kain di pinggangnya, membawa dadung atau tali besar yang ia acungkan-acungkan, ia putar-putar di atas kepalanya, seperti Cowboy hendal melasso sapi peliharaannya.

Lebih baik saya menyongsongnya. Saya loncat turun panggung. Menyambutnya seperti kepada adik atau anak saya. Kemudian saya dekatkan kepala saya ke kepalanya. Kami omong-omong beberapa saat. Kemudian saya mencari Pakde Nuri dan menyerahkan tamu ini kepadanya. Pakde menggandengnya ke bangunan sebelah panggung dan mengajaknya dialog dengan penuh kasih sayang.

Ketika kemudian saya kembali ke panggung, ternyata sudah ada seorang Ibu sudah memegang mikrofon seakan-akan dia yang akan memimpin acara. Dengan kasih sayang saya mendekatinya, omong-omong beberapa kata dan kalimat, kemudian mikrofon saya alihkan ke tangan saya. Si Ibu ini saya carikan momentum untuk pelan-pelan dan santun diajak ke tepian panggung, kemudian turun dan duduk di kursi pada deretan sebelah kanan panggung.

Saya tidak punya ilmu, atau kemampuan linuwih apa-apa. Mungkin sekadar bahwa KiaiKanjeng dan saya itu aura batinnya segelombang dengan orang-orang yang masyarakatnya menyebutnya orang gila. Atau mungkin karena memang sama-sama gila, sehingga di mana-mana selalu nyambung dengan tamu-tamu gila naik panggung.

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.

Tetapi Ibu yang naik panggung di acara syukuran keluarganya Kartolo Surabaya, tidak 100% bisa saya atasi. Saya tidak pernah keberatan siapa-siapa pun naik panggung KiaiKanjeng. Apalagi Ibu di acara Kartolo ini ketika kami melantunkan shalawat, saya lirik kedua bibirnya bergerak-gerak sesuai dengan bagaimana gerak bibir siapapun mengucapkan kalimat-kalimat shalawat itu. Maka saya meyakini Ibu ini hapal dan bisa melantunkan apa yang kami lantunkan.

Maka dengan sangka baik dan optimisme cinta Rasulullah Saw, saya kasihkan mikrofon di tangan saya kepada Ibu ini. Tiba-tiba saja, begitu menerima mikrofon, ia meletakkannya tepat di depan mulutnya dan ia berteriak sangat keras. Yang ia teriakkan adalah satu kata yang terdiri dari empat huruf yang wajib saya auratkan di tulisan ini. Karena pasti hampir semua orang, semua sistem etika masyarakat, tidak akan berkenan terhadap satu kata yang dahsyat itu. Pokoknya empat huruf. Mohon Anda mencerdasinya sendiri-sendiri.

Di zaman SD dulu satu-satunya buku tulis yang bisa dibeli oleh para murid adalah produksi Pabrik Kertas LETJES. Biasanya di antara anak-anak ada yang iseng menghapus bagian tertentu dari enam huruf itu sehingga menjadi empat huruf yang berbunyi seperti yang dimaksud di atas. 

Tentu saja saya sigap langsung mengulurkan tangan saya untuk merebut mikrofon dari tangan Ibu itu. Semua KiaiKanjeng maupun ribuan massa yang hadir langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai berkepanjangan. Saya kira peristiwa di acara syukuran keluarga Kartolo ini merupakan salah satu “masterpiece”pengalaman KiaiKanjeng selama 30 tahun berkeliling ke banyak negara-negara, kota-kota, kampung-kampung, desa-desa, pelosok-pelosok, pinggiran-pinggiran hutan dan lautan, lereng gunung, juga Gedung-gedung pencakar langit.

Tetapi di hari-hari Reformasi 1998 ketika saya berkunjung ke kantor Pusat Pertahanan Keamanan, di lantai dua tepat ketika keluar dari Lift, di tembok seberang ada coretan empat huruf itu juga. Sangat besar, masing-masing huruf kira-kira setinggi satu orang. Seorang Jendral yang mentuanrumahi saya mengatakan bahwa ada stafnya yang sangat frustrasi karena sekian lama bukannya bertugas mengurusi pertahanan dan keamanan negara, melainkan setengah mati bekerja menutupi bahkan menghapus secara intelijen kasus-kasus elit yang urusannya adalah empat huruf itu.

Sekaget-kagetnya saya dan kami semua oleh empat huruf di acara Kartolo maupun di Gedung Hankam, yang merupakan kata-kata sangat aurat dan buruk untuk diucapkan itu, saya tidak bisa berpikiran buruk, apalagi marah. Kami semua tidak tahu sama sekali riwayat hidup dan apa yang dialami oleh Ibu itu maupun oleh aparat petugas Hankam. Kita tidak bisa menghakimi buah tanpa mempelajari pohon hingga akar dan tanahnya.

لَّا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَن ظُلِمَ
وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا

Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Sedangkan saya, KiaiKanjeng dan publik yang hadir hanya mendengar satu kata teriakan itu, tetapi tidak mengetahui asal-usulnya.

https://www.caknun.com/2021/empat-huruf-pemecah-langit/

 

Mbah Kiai Alhamdulillah, Imunitas dan Imanitas

MAMHTROSO.COM -- Kalau kita menatap diri kita masing-masing. Kalau kita menatap diri kita bersama-sama. Kalau kita menatap diri masyarakat kita. Kalau kita menatap Indonesia dan dunia. Kalau kita menatap semua zaman, seluruh peta sejarah, serta kehidupan ini seluruhnya. Dengan sangat mudah kita menemukan dan menghimpun sangat banyak hal yang salah dan meleset, yang buruk dan busuk, yang tidak tepat arahnya dan penuh dosa, yang mencemaskan, menggelisahkan atau membosankan. Tapi juga lebih untuk menemukan hal-hal yang sebaliknya. Yang kita sukai dan nikmati. Yang kita setujui dan bangun bersama. Yang kita syukuri dan awetkan hingga ke masa depan sejauh-jauhnya.

Sejak saya hidup sebagai kanak-kanak, kemudian remaja, muda, dewasa, hingga tua sekarang ini. Tidak pernah mengalami kesulitan untuk menemukan sangat banyak hal yang kita sukai dan tidak kita sukai. Sangat banyak hal yang kita syukuri atau kita sesali. Sangat banyak hal yang kita puji atau kita kutuk. Sangat banyak hal yang membuat kita mengucapkan “astaghfirullah” atau “alhamdulillah”. “Subhanallah” atau “masyaallah”. “Robbana ma kholaqta hadza bathila” atau “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”.

Bedanya adalah, di usia senja sekarang ini, ketika menatap Negara Kesatuan Republik Indonesia dan dunia secara keseluruhan, untuk sampai ke ucapan “alhamdulillah wa syukru lillah”, untuk menemukan hal-hal yang kita sangat menikmati dan mensyukuri, kita memerlukan penelitian yang mendalam, penghayatan yang tidak mudah, perenungan, tadzakkur dan tafakkur yang sekhusyu-khusyunya. Sementara untuk menemukan hal-hal yang kita bersedih, berprihatin, mengeluh kepada Allah, yang membuat jalan darah kita penuh sumbatan-sumbatan dan gumpalan-gumpalan, pusing kepala, hati nelangsa, jiwa prihatin – sama sekali tidak memerlukan upaya perenungan atau tidak perlu mencari-cari. Karena hal-hal seperti itu sangat bertebaran di mana-mana. Kita berpapasan, bersenggolan, bersentuhan atau bertabrakan ke manapun saja kita berjalan. Kita dikepung oleh kebusukan di mana-mana. Kita ditimbuni oleh kebrutalan nilai di mana-mana. Kita dihimpit oleh kedhaliman, kehinaan, dan kerendahan di mana-mana. Jangankan perlu mencarinya, bahkan hampir tidak ada ruang dan waktu di mana kita tidak disapu olehnya.

Di era 2020-an sekarang ini sudah tidak ada lagi berbagai hal yang di era 1960-an hingga 1980-an hadir kepada kita sebagai kegembiraan, sekurang-kurangnya menjadi harapan. Dengan Bahasa sehari-hari, sekarang ini kalau mau hidup pesimis dan putus asa, sangat mudah karena melimpah-limpah bahannya. Kalau mau optimis dan tetap bersyukur, harus berjuang dan berusaha keras meningkatkan daya penglihatan yang dipenuhi “husnudhdhan” dan rasa syukur.

Kita tidak perlu mencapai level rohaniah dan ketauhidan sebagaimana Mbah Kiai Alhamdulillah di Pati Jawa Tengah yang almarhum beberapa dekade yang lalu. Yang hidupnya sedemikian dipenuhi oleh sangka baik kepada Allah, menemukan muatan-muatan kebaikan di dalam keadaan seburuk apapun. Tidak bisa melihat, mengamati atau mengalami apapun kecuali menghasilkan rasa syukur alhamdulillah kepada Allah. Mungkin kita cukup selalu berusaha ingat dan menyadari bahwa Allah tidak mungkin membiarkan ciptaan-Nya ini mengelami ketidakseimbangan.

Dan manusia, dengan akal yang adil, dengan hati yang murni dan dengan jiwa yang utuh, harus terus melakukan upaya-upaya untuk menemukan dan memelihara keseimbangan itu. Baik dalam konteks kehidupan pribadinya, keluarganya, masyarakat, negara dan dunianya. Manusia adalah pegawainya Allah. Manusia adalah karyawannya Allah. Dan seratus persen harus bekerja dengan landasan dan pedoman keseimbangan yang mutlak diniscayakan oleh Allah bagi kehidupan.

Dan kalau sampai terjadi ketidakseimbangan, dalam urusan apapun, dalam konteks dan skala seberapapun, yang salah pasti manusia. Sebab Allah Maha Mustahil untuk Salah.

وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ
أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ
وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ

Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca keadilan. Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.

Manusia tidak mampu menjaga “mizan” dalam kehidupan hanya dengan ilmunya. Karena yang Allah “uutitum minal ‘ilmi” hanyalah sangat sedikit dan mencukupi untuk membungkus supra-gejala kehidupan, meskipun justru karena itu manusia harus memaksimalkan ikhtiar ilmunya. Manusia harus melangit-bumikan ilmunya, tidak bisa hanya dengan membumikan saja atau melangitkan saja. Manusia harus mendunia-akhiratkan hidupnya, akan terkapar jatuh kalau hanya manduniakannya atau hanya mengakhiratkannya. Manusia tidak bisa menemukan keseimbangan hidupnya serta membangun peradabannya hanya dengan mengilmukannya, tetapi juga harus mengimankannya. Ilmu harus dinikahi oleh iman.

Jangan seperti mayoritas manusia modern dengan lembaga-lembaga politik, pendidikan, kebudayaan dan politiknya yang menyuruh ilmunya tinggal di sebuah rumah khusus, kemudian imannya disuruh tinggal di rumah yang lain yang tidak ada pintu butulan di antara keduanya. Bahkan memakai ilmunya untuk membangun seluruh bagian dari rumah dan kebun-kebunnya, sementara imannya dikurung atau diisolasi di sebuah bilik kecil di pojok belakang rumahnya.

Sebutan birokrasi dan lembaga seperti itu adalah sekularisme. Suatu cara, ideologi, prinsip dan sistem kehidupan yang bukannya membuang Tuhan, Rasul dan Nabi serta Agama, tetapi memenjarakannya di guthekan, kamar samping yang tidak berfungsi primer. Ia hanya ditengok sesekali ketika membutuhkan laba kapitalisme yang lebih besar, atau ketika mengalami masalah yang tak terjangkau oleh ilmunya. Tetapi ternyata untuk urusan Covid-19, Tuhan dengan segala kelengkapan fungsi dan peran-Nya itu bukan hanya tidak ditengok, tapi bahkan benar-benar diisolasi. Seluruh Satgas Covid-19 di muka bumi terang-terangan meniadakan Tuhan, melarang doa bersama mohon perlindungan-Nya, dan menghapus semua tayangan yang tidak ada kaitannya dengan peta ilmu kedokteran modern.

Dalam urusan Covid-19 hanya ada virus yang tak henti-henti bermutasi dan menyebarkan ancaman permanen dan laten, ditambah satu faktor lagi, yaitu manusia sedunia yang tak berdaya. Semua yang lain, Tuhan, Nabi, Agama, iman, taqwa, tawakkal, istighotsah, dzikir, wirid, ritus mohon pertolongan kepada Allah dan apa saja, disembunyikan di ruang gelap di gudang bagian paling belakang dari rumah besar Globalisasi.

Untung setiap orang, terutama rakyat kecil, kaum awam, para wong cilik, rakyat jelata, penduduk desa-desa dan kampung-kampung pinggiran kota, diam-diam tetap merawat jiwa kekeluargaannya dengan Allah, Agama, Kanjeng Nabi Muhammad Saw dengan syafaatnya, hifdhullah, hasbiyallah, shalat hajat, wiridan, dzikir harian dan semua yang memang sudah menjadi tradisi sejak berabad-abad silam. Tidak mungkin rakyat Indonesia sudi mentuhankan yang bukan Allah. Mustahil masyarakat Indonesia mentuhankan WHO, Pemerintah Indonesia, Satgas Covid-19, Menteri Kesehatan atau siapapun selain Allah. Rakyat Indonesia tidak akan pernah makar kepada negara dan pemerintah Indonesia, tetapi juga jangan berharap mereka akan mentuhankan keduanya. Bahkan para cerdik pandai tidak membuka asumsi atau apalagi hipotesis, bahwa dengan berbagai inkonsistensi penanganan atas Covid-19, seharusnya korban di Indonesia akan luar biasa membludagnya, bergelimpangan di tepi-tepi jalan, dalam jumlah yang mencapai rekor dunia. Tetapi itu tidak terjadi, karena tidak pernah ada kelas atau ruang kuliah yang memperlajari misalnya “anthropoligical collective immunity”. Tentang peta genekologi yang lebih detail dan waspada. Tentang berlakunya “syu’uban wa qabaila” dalam urusan kesehatan dan ketahanan badan atau psikologis.

Rakyat Indonesia sudah lama menjadi kumpulan hamba-hamba Allah yang “imanitas”nya sangat tinggi. Dan mereka percaya hal itu tidak mungkin tidak berpengaruh terhadap “imunitas” jasadiyah mereka. Mereka juga tidak mungkin mengucapkan “A’udzu biPemeringah Indonesia minal Covidiirrajim”. Mereka mustahil mengandalkan badan penanganan virus yang tidak punya single data, melainkan silang sengkarut dengan multidata yang berbeda satu sama lain di dalam internal kepemerintahan.

Mereka juga tidak akan mengandalkan para Ilmuwan-ilmuwan modern untuk mampu melindungi mereka dari wabah. Karena ilmu-ilmu paling modern pun belum bisa menjangkau “ma’rifat Covid”. Para ilmuwan modern belum bisa memproduksi Kaca Benggala yang murah harganya, yang bisa dibeli oleh rakyat paling miskin, yang bisa di bawa ke mana-mana, yang cukup dengan meneropong menggunakan Kaca Benggala itu bisa langsung diketahui di depannya atau di sekitarnya ada virus Covid-19 dan anak turunnya atau tidak.

Rakyat kecil Indonesia diam-diam tetap menggunakan Ilmu Hikmah warisan nenek moyang mereka, yang sudah dikubur dan diperhinakan sejak Indonesia memproklamasikan diri pada 17 Agustus 1945. Ilmu Hikmah yang dunia global dan kaum ilmuwan merendahkan dan memperhinakannya sehingga menyebutnya sebagai “Kearifan Lokal”. Hikmah itu di atas hukum dan segala ilmu formal. Hikmah adalah hasil dari tindakan membijaksanai sesuatu, kejadian, peristiwa, tuntunan, wacana, narasi, nilai, tokoh, jasa, Covid-19 atau apapun.

Manusia menjadi manusia karena ia punya kegiatan utama yang bernama menghikmahi. Kalau manusia tidak mampu menghikmahi sesuatu, tidak berguna Allah memberinya akal, hati, roh, dan jiwa. Orang Jawa menempuh proses hikmah dengan “Ilmu Titèn”, kebiasaan untuk mengingat-ingat apa yang pernah ada dan pernah terjadi dengan kesadaran hikmah.

Sesungguhnya ilmu titèn ada juga dalam diri binatang meskipun tidak berupa kesadaran akal, namun berlangsung dalam nalurinya. Anda naiki kuda, menempuh suatu rute jalan. Besok Anda naiki lagi kuda itu, tak usah Anda kendalikan, ia akan berlari di rute yang kemarin Anda lalui. Bahkan kuda punya Ilmu Titèn. Kehancuran dan kemusnahan bangsa Indonesia di masa depan adalah karena melupakan, meremehkan dan mensirnakan tradisi Ilmu Titèn dari kehidupan mereka. Karena yang terjadi pada kuda bisa terjadi pada alur kesehatan suatu bangsa dalam rentang sejarahnya. Bahkan titèn-nya kuda tidak menggunakan akal pikiran atau intelektualitas.

Bangsa Indonesia mengangkat pejabat yang tugasnya memberi hukuman kepada orang bersalah, dikasih gelar Hakim. Pengertian hakim dibatasi oleh terjemahan itu hanya di wilayah hukum. Menghukum artinya menentukan vonis. Tidak seorang pun dari ulama, ilmuwan, cendekiawan yang menuntun pemaknaan kepada masyarakat bahwa hakim bukanlah orang yang mengetokkan palu menentukan hukuman. Hakim adalah orang yang membijaksanai suatu peristiwa.

Demikian disempitkan pengertian hukum dan hakim dalam narasi sejarah Indonesia modern. Dan lebih dipersempit lagi atau bahkan dibelokkan atau digeser substansinya, ketika Hakim mengambil keputusan didasarkan atas pemihakan politik dan kekuasaan. Belum lagi ada gejala keras dan merebak di mana orang belajar hukum untuk suatu hari bisa menipu atau menjebak orang-orang lain yang tidak mengerti hukum.

Tetapi Kebon ini saya potong di sini, karena jangan sampai malah terjebak menambah tebaran rasa jengkel, bosan, uring-uringan, marah dan frustrasi.

https://www.caknun.com/2021/mbah-kiai-alhamdulillah-imunitas-dan-imanitas/

 

Berlangganan RSS feed