Masuk

Bermimpi dan Berjuang

MAMHTROSO.COM -- Dikisahkan, pada tahun 1867, hiduplah seorang ahli teknik kelahiran Jerman bernama John Augustus Roebling. Ia bermimpi membangun sebuah jembatan yang menghubungkan Kota New York dan Long Island. Impian John tidak mendapat dukungan bahkan ditertawakan oleh banyak temannya. Mereka mengganggap proyek itu adalah ide yang paling gila dan tidak mungkin diwujudkan pada zaman itu. Maka, John pun hanya bisa berbagi impian dengan anaknya, Washington Roebling. Washington juga seorang ahli teknik. Maka, ayah dan anak itu berjuang bersama untuk mewujudkan impian itu, diiringi pandangan sinis orang-orang di sekitar.

Ketika proyek itu baru berjalan beberapa bulan, terjadi kecelakaan yang fatal. Sayangnya, karena pertolongan yang terlambat, John Roebling tidak bisa diselamatkan. Sedangkan Washington, walaupun nyawanya selamat, tetapi mengalami cedera parah pada kepalanya yang mempengaruhi motoriknya. Washington menjadi lumpuh dan tidak mampu berbicara. Namun demikian, impaian ayahnya tentang jembatan tidak pernah padam dalam pikirannya.

Suatu hari, saat Washington terbaring tidak berdaya di tempat tidurnya, ia melihat cahaya matahari melewati jendela kamarnya, menyilaukan dan menyakitkan mata. Segera ditutupnya kelopak matanya, dan saat itu pula, seakan Sang Mahakuasa memberinya pertanda. Tiba-tiba muncullah sebuah kesadaran, “Hari ini aku masih bisa menikmati indahnya kilau mentari, artinya, Tuhan masih memberiku waktu untuk berbuat. Dan aku sadar, aku tidak boleh menyerah!” Dengan sekuat tenaga, ia berkonsentrasi penuh dan berusaha untuk menggerakkan satu jarinya. Usaha yang dilakukan berulang-ulang dengan semangat dan konsentrasi penuh, ternyata tidak sia-sia. Dia berhasil menggerakkan jarinya! Perlahan-lahan, Washington mampu membuat kode untuk berkomunikasi dengan istrinya, Emily, melalui satu jari itu.

Walaupun begitu perlahan pada awalnya, dengan cara seperti itulah, Washington memberi petunjuk kepada Emily untuk melanjutkan pembuatan jembatan. Semua instruksi diberikan kepada Emily dan kemudian disampaikan lebih lanjut kepada para pekerjanya yang setia membantu mewujudkan impiannya. Begitu berulang-ulang. Mereka melalui berbagai kendala yang tidak sedikit jumlahnya. Butuh waktu panjang untuk berjuang dengan semua sisa kekuatan dan ketegarannya, dan butuh waktu selama 13 tahun untuk mewujudkan impiannya. Akhirnya, pada tahun 1883, Jembatan Brooklyn (Brooklyn Bridge) berdiri megah di Kota New York, Amerika Serikat.

Pembaca yang Bijaksana,

Banyak orang berpikir bahwa sukses merupakan hasil dari kepandaian, kecemerlangan yang luar biasa. Atau keberuntungan yang besar. Padahal sesungguhnya, sukses lebih merupakan hasil dari “menggenggam kuat impian, tanpa melepaskannya.”

Kisah dalam tulisan ini merupakan sebuah contoh bahwa dengan pikiran positif dan perjuangan nyata kita semua mampu memegang erat mimpi dan bisa mewujudkan apa yang sekiranya tidak mungkin menjadi mungkin!

Patut kita sadari pula, betapa luar biasanya kekuatan pikiran manusia! Pikiran manusia bisa membuat hidup menjadi sengsara atau bahagia, gagal atau sukses, biasa-biasa saja atau luar biasa. Kalau kita mengikuti pikiran yang negatif, maka kehidupan kita isinya akan negatif pula. Hidup penuh kecemasan, pasif, ketakutan dan kekurangan. Namun jika kita mampu mengembangkan pikiran yang positif, optimis, dan senantiasa berpengharapan yang positif, serta punya komitmen tinggi dalam mewujudkan segala impiannya, maka kita akan hidup penuh gairah, syukur, gembira, sukses, dan bahagia setiap hari.

Mari kita pilih hidup dengan pola pikir yang positif. Kita pilih hidup dengan aktivitas yang positif. Dan kita pilih agar hidup kita bisa berguna bagi diri sendiri, orang-orang terkasih, dan bagi banyak orang.

Salam sukses luar biasa!

https://andriewongso.com/bermimpi-dan-berjuang/

 

  • 0
  • Baca: 16 kali

Tiongkok Membangun Stadion Terbesar di Dunia

MAMHTROSO.COM -- Di tengah pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia, dan juga kewaspadaan akan terjadinya gelombang kedua pandemi dari virus Corona, Tiongkok memulai pembangunan stadion terbesar di dunia.

Stadion bernama Guangzhou Evergrande ini dirancang akan memiliki 100.000 tempat duduk dan ditargetkan rampung pada 2022; untuk kemudian digunakan sebagai lokasi Piala Asia 2023, serta melancarkan upaya/ambisi Tiongkok menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030.

Kapasitas stadion raksasa ini, jika sudah selesai dibangun, tentunya akan melampaui kapasitas stadion-stadion besar dan legendaris di Eropa: Camp Nou Barcelona/Spanyol (99.354 penonton), Wembley/Inggris (90.000 penonton), serta Signal Iduna Park/Jerman (81.365 penonton).

Pembangunanya sendiri diperkirakan menelan dana hingga 12 miliar yuan atau sekitar Rp 26,18 triliun.

 

Guangzhou Evergrande ini, dibangun dan dimiliki oleh Evergrande Group—perusahaan pengembang properti/real estate, yang didirikan oleh salah satu orang terkaya Tiongkok.

Presiden Evergrande Xia Haijun mengatakan, stadion yang megah ini dibangun dengan tujuan agar menjadi simbol kelas dunia layaknya Sydney Opera House di Australia maupun Burj Khalifa, gedung pencakar langit di Dubai, UEA.

“Dan juga simbol penting sepak bola Tiongkok yang menuju kelas dunia,” kata Xia, dalam acara peletakan batu pertama stadion tersebut (April 2020).

Xia juga menjelaskan, desain stadion ini terinspirasi dari bunga lotus/teratai yang berasal dari Guangzhou, Kota Bunga-nya Tiongkok. Desainnya sendiri, merupakan hasil karya seorang desainer Amerika Serikat yang berbasis di Shanghai, yakni Hasan Syed.

Nantinya, seluruh bangunan stadion akan mencakup 16 kamar pribadi VVIP, 152 kamar pribadi VIP, area untuk FIFA, area bagi atlet, dan ruang media. Juga untuk digunakan sebagai rumah bagi klub juara Liga Super China, Guangzhou Evergrande.

 
  • 0
  • Baca: 13 kali

Satu Kesulitan, Dua Kemudahan

MAMHTROSO.COM -- Salah satu ayat Alquran yang sangat menarik dibaca dan dipelajari adalah Surat Al-Insyirah (surat ke-94) ayat 5 dan 6, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”

Ayat ini sangat menarik. Karena ada pengulangan di sana: sesudah kesulitan, ada kemudahan!.

Prof Dr Buya HAMKA dalam  Tafsir Al-Azhar menafsirkan maksud ayat ini: untuk setiap satu  kesulitan, tersedia dua  kemudahan. 

Imam Ibnu Katsir dalam Tafisr Ibnu Katsir mengutip sebuah hadits Nabi, suatu hari Rasulullah duduk-duduk di atas sebuah batu. Lalu beliau bersabda, “Kalau ada kesulitan itu datang kemudian masuk ke dalam batu ini, kemudahan akan datang dan masuk pula ke dalam batu ini, kemudian mengeluarkan kesulitan tadi.” Lalu Allah SWT menurunkan ayat QS Al Insyirah ayat 5-6.

Dalam Tafsir  Fi Zhilalil Quran karya Sayyid Qutub ditegaskan, “Sesungguhnya kesulitan itu tidak lepas dari kemudahan yang menyertai dan mengiringinya . “

Wahbah Zuhaili dalam  Tafsir Al-Wasith  mengutip sebuah hadits Nabi yang  menceritakan, “Suatu hari Nabi SAW keluar rumah dalam kondisi senang dan bahagia, beliau tertawa dan bersabda, “Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan, dan sungguh bersama kesulitan ada kemudahan.” 

Dr Saiful Bahri dalam Tadabur Juz ‘Amma  mengutip  Imam Al-Bahgawi, Imam Al-Ma’ini dan Syaiekh Muhyiddin Ad-Darwisi, menyimpulkan hal yang sama: setiap satu kesulitan terdapat dua kemudahan. Setidaknya akan berupa penyelesaian yang terbaik serta pahala kebajikan yang hanya diketahui Allah jika bersabar dalam menghadapinya.

Rasulullah sejak kecil telah diuji, yakni lahir sebagai yatim. Namun kemudian Allah muliakan beliau dengan anugerah kekayaan yang memungkinkan beliau menyantuni fakir miskin, anak-anak yatim dan janda miskin.

Setelah beliau diangkat menjadi Nabi dan Rasul, berbagai cobaan berat menghdang langkah dakwahnya. Para pengikutnya ditindas dan dihina. Pengikutnya yang merupakan orang-orang lemah dizalimi.

Tapi kemudian Allah membuktikan janjinya, yakni memberikan kemenangan kepada Rasulullah dan orang-orang yang beriman.  Rasulullah bersama umat Islam  berhasil menaklukkan kota Mekkah  (Fathul Mekkah).  Orang-orang Quraisy,  baik pimpinan maupun anak buahnya yang semula memusuhi Nabi dan orang-orang beriman, akhirnya menyerah kalah.

Jadi, kata Saiful Bahri, yakinlah setidaknya setiap satu kesulitan ada dua kemudahan yang disiapkan Allah: kemudahan duniawi dan ukhrawi.

Rasulullah  menegaskan dalam salah satu haditsnya sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu  ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud, “Berikan kabar gembira, telah datang kemudahan  Takkan pernah satu kesulitan mengalahkan dua kemudahan.”

Surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6 ini menjadi energi positif yang luar biasa bagi umat Islam dalam menghadapi ujian hidup apa pun, termasuk pandemic Covid-19 yang saat ini tengah melanda negeri kita dan seantero dunia. 

https://republika.co.id/berita/qcicsw313/satu-kesulitan-dua-kemudahan

  • 0
  • Baca: 15 kali

Kisah Umar bin Khattab dan Pria yang Memegang Botol Arak

MAMHTROSO.COM -- Pada suatu hari, Amirul Mukminin Umar bin Khattab melihat seorang laki-laki sedang asyik menenteng sebotok araknya. Kemudian Umar memecahkan botol itu di depan mata kepalanya sambil berkata, "Sekali lagi engkau melakukan ini, maka akan aku beri sanksi, hukuman untukmu!"

Hari-hari pun berlalu, laki-laki yang pernah dijumpai Umar itu tak sengaja kelihatan lagi. Saat berjala sedang berjalan di suatu daerah, dia melihat Amirul Mukminin Umar bin Khattab.

Dia tertangkap basah dan tidak bisa lari dari pandangan Amirul Mukminin. Karena kedua mata Umar sudah membidik dan menatapnya.

Seketika itu juga laki-laki tersebut  gemetar berhadapan dengan Umar untuk kedua kalinya. Dalam hati dia berkata, "Ya Allah, sebelumnya engkau menyelematkanku dari kehinaan di depan Amirul Mukminin. Saya berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang engkau murkai setelah ini."

Amirul Mukminin semakin mendekatinya dan mengambil botol yang dipegang laki-laki itu. Amirul Mukminin bertanya, "Apa yang ada di dalam botol ini?"

Laki-laki itu tidak bisa menjawab. Umar kemudian membukanya, ternyata isinya hanyalah cuka.

Allah dengan kehendak-Nya, telah mengganti khamar itu menjadi cuka. Karena ketulusan niat taubat hamba-Nya dan ingin menepati janjinya.

https://republika.co.id/berita/qcghtj430/kisah-umar-bin-khattab-dan-pria-yang-memegang-botol-arak

  • 0
  • Baca: 13 kali

3 Tawaran Sikap Qurani Hadapi Perubahan Sosial Covid-19

MAMHTROSO.COM -- Covid-19 telah merenggut banyak nyawa, sehingga menjadi permasalahan dunia. Setiap negara berlomba untuk menghentikan penyebarannya. Di sisi lain, manusia banyak yang cemas karena keterlambatan pemerintah mereka dalam memberantas virus setelah mereka berpikir perkembangan ilmiah dan teknologi akan mengakhirinya. Negara-negara besar yang  secara ekonomi dan finansial memiliki potensi luar biasa, tampak tidak mampu menghadapi makhluk yang sangat kecil itu.  

Kondisi sulit ini sangat mempengaruhi tata kehidupan sosial, banyak orang kehilangan pekerjaannya, antara individu sosial masyarakat mengalami hambatan dalam berkomunikasi, proses belajar-mengajar mengalami banyak kendala. Fenomena seperti ini sudah barang tentu akan menimbulkan perubahan sosial (social change) termasuk  merubah prilaku manusianya.  

Dalam berbagai literatur sosiologi disebutkan bahwa social change atau perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya. Perubahan ini mencakup nilai-nilai, sikap, dan pola perilaku (Prof Selo Soemardjan). 

Perubahan tersebut bisa terjadi secara evolusi ataupun revolusi, berdasarkan perencanaan ataupun tanpa perencanaan. Pengaruh perubahannya bisa bersekala kecil ataupun bersekala besar. Di samping itu dampak dari perbuhan itu bisa positif dan bisa negatif. 

Dengan memperhatikan teori social change, maka Covid-19 termasuk perubahan sosial secara revolusi, karena dalam waktu relatif singkat corona bisa merubah tatanan sosial bukan berskala nasional, tetapi serentak berskala dunia. 

Banyak negara tidak berdaya menghadapinya, sosial ekonomi mandeg atau turun drastis, karena corona datang secara tiba-tiba, tidak bisa diprediksi dan tidak bisa direncanakan sebelumnya. Pengaruhnya pun berskala besar karena seluruh sektor kehidupan sosial kelimpungan. Sehingga sangat berdampak terhadap perilaku sosial, baik positif maupun negatif.  

Henndy Ginting,  ketua Kompartemen Pengembangan Asosiasi/Ikatan PP HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) berpendapat bahwa Covid-19 akan mengubah perilaku manusia mencakup perilaku hidup sehat, perilaku menggunakan teknologi, perilaku dalam pendidikan, perilaku menggunakan media sosial, perilaku konsumtif, perilaku kerja, dan perilaku sosial keagamaan.   

Manusia akan semakin terbiasa menjaga pola hidup sehatnya, makan yang bergizi, senang berolahraga, dan rajin memeriksa kesehatannya secara teratur. Selanjutnya manusia akan terbiasa menggunakan teknologi digital untuk alat komunikasi, alat produksi dan kebutuhan lainnya. Dalam bidang pendidikan, pengajar dan peserta didik akan terbiasa menggunakan media pembelajaran jarak jauh, misalnya email, WAG, Google Meet, Zoom, dan google classroom. Namun di sisi lain manusia akan dibanjiri informasi yang belum jelas kebenarannya. 

Mereka akan memilih hidup lebih sederhana, dengan hanya membeli barang-barang yang dibutuhkan dalam jumlah yang sesuai dengan kebutuhan. Karyawan yang berada pada kelompok middle income ke atas biasanya melakukan saving sebelum dan selama masa pandemik. 

Apabila kelompok ini kehilangan pekerjaan, mereka akan mencari peluang untuk pengembangan diri. Masyarakat menjadi lebih sadar tentang makna ritual keagamaan dan kaitannya dengan kematangan spiritual dengan memandangnya sebagai proses mencari sesuatu yang lebih utama dan bermakna.

Sejarah mengingatkan kita, bahwa pada abad ke-14 telah terjadi pandemi yang dahsyat, disebut black death (wabah hitam) yang konon telah membunuh sepertiga penduduk benua Eropa. Demikian pula Perang Dunia telah menghancurkan Jepang, Jerman, dan negara-negara lainnya, namun negara-negara yang dilanda musibah itu ternyata telah mampu menghadapinya dan bisa bangkit, sehingga musibah yang dialaminya itu menjadi enerji positif kebangkitan sosial, politik, ekonomi dan lainnya. 

Allah SWT berfirman: 

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’du: 11)

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Yang demikian itu sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah diberikan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” ( QS al-Anfal: 53)

Perubahan sosial merupakan salah satu aspek kehidupan yang senantiasa ada tanpa berhenti karena tunduk kepada Sunnatullah. Banyak sekali ayat Alquran yang menginformasikan adanya perubahan, sebagaimana firman Allah SWT: 

أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS al-Ankabut: 19)  

Ayat ini menjelaskan betapa mudah bagi Allah SWT mengubah atau mengganti fenomena kehidupan manusia, dari tidak ada menjadi ada dan menjadi tidak ada lagi. Sehingga Muhammad Abduh mengungkapkan perubahan itu sebagai sunnatullah (kebiasaan Allah) yang berhubungan dengan tabiat manusia. 

Syekh Saīd Ramadhan Al Būthī juga menjelaskan bahwa sikap kita terhadap Allah harus sesuai dengan perintah-Nya (taat dan beriman sepenuhnya kepada Allah). Sikap kita terhadap sunatullah harus sesuai dengan hukum-hukum alam yang ditetapkan oleh-Nya sebagai asas keteraturan alam.

https://republika.co.id/berita/qclyif320/3-tawaran-sikap-qurani-hadapi-perubahan-sosial-covid19

  • 0
  • Baca: 11 kali

اعملوا، فكل ميسر لما خلق له

السؤال

لدي شبهة حول القدر، تمنعني من حب الله، وأن أظن به خيرا وعدلا.
قرأت بعض الآيات والأحاديث ومنها: "فأنجيناه وأهله إلا امرأته قدّرناها من الغابرين" و "ويؤمر بأربع كلمات: بكتب رزقه، وأجله، وعمله، وشقي أو سعيد. فوالله الذي لا إله غيره، إن أحدكم ليعمل بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع، فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار ويدخلها "و "أما أهل السعادة فييسرون لعمل أهل السعادة، وأما أهل الشقاوة فييسرون لعمل أهل الشقاوة"
وغير ذلك من النصوص التي تبين أن كوننا مسلمين أم كافرين ومن أهل الجنة أو أهل النار، مكتوب في اللوح المحفوظ، لا خيار لنا فيه.
فلماذا يحاسبنا الله على شيء هو الذي اختاره لنا؟ وأجبرنا عليه؟ أهو ظلم؟
ينتابني شعور بالخوف أنه كتب لي أن أكون كافرة، فأنا لا أريد الخلود في جهنم، وأحاول قدر المستطاع أن أثبت على العقيدة الإسلامية. ولكن ماذا لو كان الله كتب في لوحه أنني من أهل النار؟
أرجو منكم أن توضحوا لي.
وشكرًا.

 

الإجابــة

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:

فنسأل الله تعالى أن يشرح صدرك، ويلهمك رشدك، ويعيذك من شر نفسك. فما هكذا يستقبل المؤمن ما قد يعرض له من شبهات. فالمؤمن الحق عنده من الأصول والضوابط، ما تقف معه كل شبهة عند حدها، فلا تعدو قدرها، حتى ولو لم يجد لها من الجواب المفهم ما يزيل أصلها ويحل عقدها.

فالإيمان الحق له من الأدلة القاطعة ما لا يحصى، ولا يصح أن تزلزل هذا القواطع لمجرد إشكال قد يغيب جوابه عن العبد.

والمنهج الصحيح عندئذ أن يرد المتشابه إلى المحكم، ويستعين بالله تعالى ويلجأ إليه، كما قال تعالى: هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ * رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ [آل عمران: 7-8].

فالشبهة تبقى شبهة! ولا تبلغ أن تكون عقدية تزعزع اعتقادا راسخا، أو تزلزل أصل الإيمان الذي هو محبة الله تعالى!

ولذلك فإن المؤمن إن شوش عليه شيء من الشبهات، دفعه أولا بإيمانه الراسخ، ثم بعد ذلك بالتعلم والسؤال.

وما دقَّ من مسائل القضاء والقدر هي من هذا الباب، لها أصل محكم، وفروع مشتبهة.

فالأصل هو الإيمان بتمام علم الله وحكمته، وعدله ورحمته، ولطفه وقدرته.

ومن المشتبه ما أشكل على السائلة، وهو الجمع بين إثبات قدر الله ونفوذ مشيئته، وبين إثبات اختيار العبد وكسبه لفعله.

وهذا شيء لا تحتمله أكثر العقول، ولذلك كان موضع ابتلاء وتمحيص وتمييز بين الناس، فمنهم من يتمسك بالأصل المحكم فيسلم، ومنهم من يتيه مع الفرع ويضيع الأصل فيهلك.

وذلك أن في القدر سراً لله تعالى، كما قال شيخ الإسلام ابن تيمية: يكفي العاقل أن يعلم أن الله عز وجل عليم حكيم رحيم، بهرت الألباب حكمته، ووسعت كل شيء رحمته، وأحاط بكل شيء علمه، وأحصاه لوحه وقلمه، وأن لله تعالى في قدره سرا مصونا، وعلما مخزونا، احترز به دون جميع خلقه، واستأثر به على جميع بريته ... وفي هذا المقام تاهت عقول كثير من الخلائق. اهـ. 

وخلاصة الأمر أن أننا مع إثباتنا لقدر الله تعالى، فإننا نثبت للعبد اختيارا يصح معه تكليفه ومجازاته، ولا يخرج عن قضاء الله تعالى وقدره! وهذا يوافق الواقع المحسوس في تمييز الناس بين الفعل الاختياري، كتحرك الإنسان لفعل يريد، وبين الفعل الاضطراري كحركة المرتعش والمحموم. والتكليف والمجازاة إنما تكون على الأول دون الثاني.

ولوضوح هذا الفرق لا تكاد تجد أحدا يرضى ممن ظلمه أو تعدى عليه، أو سلبه حقه أن يحتج عليه بالقدر السابق، بل يقول: هذا فعلك باختيارك ومشيئتك، كما يدل عليه العقل والحس.

وقد سبق لنا بيان بطلان الاحتجاج بالقدر على المعاصي والمعايب، وراجع في ذلك الفتاوى: 49314، 300247، 57828، 242914.

ولذلك فنحن لا نقول: إن الإنسان مخير، بإطلاق، كما لا نقول: إنه مسير، بإطلاق، بل نقول: إنه مخير من وجه، مسير من وجه، أو نلخص ذلك فنقول: إنه ميسر لما خلق له. وراجعي في ذلك ما أحيل عليه في الفتويين: 234691، 151961.

والأمر الذي لا بد من لفت النظر إليه أن القدر من الغيب الذي لا يعلمه الإنسان، ولا يصح أن يترك المرء ما أمر به ويتكل على كتابه الأول، ويضيع نفسه محتجا بغيب لا يعلمه. بل الصواب أن يجتهد الإنسان في طاعة الله ويتجنب معصيته، ويرجو ثوابه ويخاف عقابه. وقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ما منكم من نفس إلا وقد علم منزلها من الجنة والنار. فقالوا: يا رسول الله فلم نعمل؟ أفلا نتكل؟ قال: لا، اعملوا، فكل ميسر لما خلق له، ثم قرأ: فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى. وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى. فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى. وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى. وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى. فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى [الليل: 5 - 10]. رواه البخاري ومسلم.

وراجعي في معناه الفتوى: 353533. وراجعي للأهمية، الفتوى: 312490.

 والله أعلم.

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/422506/%D8%A7%D8%B9%D9%85%D9%84%D9%88%D8%A7%D8%8C-%D9%81%D9%83%D9%84-%D9%85%D9%8A%D8%B3%D8%B1-%D9%84%D9%85%D8%A7-%D8%AE%D9%84%D9%82-%D9%84%D9%87

  • 0
  • Baca: 15 kali

Is It Allowed to Look at the Sky While Praying?

Question:

I am currently reverting to Islam. For a period of time I would often run surahs of the Quran through my head while doing different things. Is this OK? I stopped because I read that Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him) said that if you look at the sky during Prayer Allah will turn you blind. Is this true and in what cases? Is what I was doing considered Prayer? Also bad thoughts about Allah sometimes come into my mind. I do not mean them and can't control them. It has made me fear attempting Prayer because I fear punishment for these thoughts, so I have not been praying as I should. What should I do?

 

Answer:

In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful. 

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.


In this fatwa:

1- We should not point to Allah as if He were located in any palpable direction.

2- That is why the Prophet has prohibited looking at the sky while praying.

3- But if a person didn’t know this prohibition and did it un-willfully, he/she is excused, for Allah does not take us to task for our inadvertent slips and trespasses.


In responding to your question, Sheikh Ahmad Kutty, a senior lecturer and an Islamic scholar at the Islamic Institute of Toronto, Ontario, Canada, states:

Reading the Quran while Doing Different Things

Is Reciting Quran from Memory or from Mushaf Better?

Islam teaches us to treat the Word of Allah with utmost reverence. Once you are certain that you are not violating this principle, there is nothing wrong for you to repeat the surahs (chapters) of the Quran in your mind while doing different things.

Of course, we should not read the Quran while relieving ourselves or engaged in activities that do not befit the majesty of the divine Word.

It is not clear to me what sort of activities you were doing while reading the surahs.

However, whatever wrong you have done in the past, ask forgiveness of Allah; He is most forgiving if you sincerely turn in repentance to Him.

Allah says:

{Do they not know that it is Allah Who accepts the repentance of His servants and receives (approves) their charity, and that Allah is the Relenting, the Compassionate?} (At-Tawbah 9:104)

Looking towards Sky While Praying

The Prophet’s interdict against looking towards sky while praying is because of Islam’s concept of Allah’s transcendence. We are not allowed to point to Allah as if He were located in any palpable direction.

That is why the Prophet (peace and blessings be upon him) has prohibited such an act. But if a person didn’t know this prohibition and did it un-willfully, he/she is excused, for Allah does not take us to task for our inadvertent slips and trespasses.

In prayer, we are ordered to look to the place where we place our forehead.

This is because of the fact that such a posture is most conducive to a feeling of true humility while standing before the Lord of the worlds. It should also help us to be more focused in Prayer.

How to Dispel Bad Thoughts

How to Overcome Evil Thoughts

As for the bad thoughts that invade your mind, you simply dispel them by seeking refuge in Allah as soon as they occur, and never stop to dwell on them.

The Prophet (peace and blessings be upon him) taught us that there is nothing that Satan detests more than the sight of a worshiper rapt in prayer; hence he is at his hardest in taking one’s mind away from Prayer by whispering vile thoughts.

But never despair of Allah’s mercy. You can fight the Deceiver by seeking refuge in the Lord. Every time such thoughts intrude your mind, turn them away by saying:

a`udhu billaahi mina ash-shaytaani ar-rajeem

(I seek refuge in Allah from Satan, the accursed).

Remember: Satan uses all kinds of ruses to make you give up praying. Instilling in your mind excessive fear of Allah’s punishment is one of such ruses.

You must fight it by reminding yourself of His boundless mercy. Almighty Allah says, {Say: O My servants who have wronged against their souls! Do not despair of Allah’s mercy! For Allah forgives all sins; for He is indeed Forgiving, Compassionate.} (Az-Zumar 39:53)

 Almighty Allah knows best.

Editor’s note: This fatwa is from Ask the Scholar’s archive and was originally published at an earlier date.

https://aboutislam.net/counseling/ask-the-scholar/prayer/is-it-allowed-to-look-at-the-sky-while-praying/

  • 0
  • Baca: 10 kali

Orde Klithih

MAMHTROSO.COM -- Klithih adalah bahasa Yogya untuk menjelaskan suatu perilaku sangat buruk, kejam dan brutal di kalangan sebagian kaum remaja Yogya dan sekitarnya, yang menjadi istilah publik karena sudah menjadi kebiasaan dalam waktu yang lama, bertahun-tahun.

Sekelompok, atau mungkin hanya 2-3 atau 1-2 orang remaja SMP atau SMA keluar dari rumah membawa pedang, kelewang, clurit atau jenis senjata tajam besar lainnya yang bukan sekadar pisau. Mereka duduk-duduk di tepian jalan, begitu ada motor lewat mereka berdiri menghampiri kemudian menebaskan senjatanya ke leher, kepala atau badan pengendara motor yang lewat itu.

Tidak ada latar belakang apapun. Pengendara yang lewat itu bukan musuhnya. Tidak pernah punya perkara dengan pembacoknya. Itu sungguh-sungguh peristiwa kelaliman subyektif dan egosentris, sepenuhnya berangkat dari nafsu anarkhis dari jiwa dan mental mereka. Para psikolog bisa menganalisis dorongan apa yang menyebabkan mereka melakukan hal itu. Kekosongan jiwa, obsesi untuk merasa hebat, suatu jenis penyakit sosial deeksistensi sehingga berbuat sesuatu agar merasa diakui bahwa mereka ada, atau entah apa. 

Tanpa tulisan ini berpretensi untuk menganalisisnya atau menguak sejarah sebab musababnya, tapi jelas ini merupakan kegagalan besar dan total dari pendidikan sosial budaya masyarakat Yogya yang dikenal sebagai masyarakat yang santun dan Kota Budaya serta Kota Pelajar.

Itu yang namanya budaya klithih. Tulisan ini juga tidak bermaksud untuk “ngisin-isin” atau “mem-bully” kebudayaan masyarakat Ngayogyahadiningrat, sebab sudah 50 tahun saya menjadi bagian dari masyarakat jantung peradaban Jawa ini.

Anasir-anasir yang bisa kita himpun dari budaya perilaku klithih antara lain: tidak berlakunya akal sehat di dalam diri pelakunya. Tidak berlakunya moralitas dan kasih sayang kemanusiaan. Tidak ada sebab akibat dalam proses sosialnya. Tidak ada bangunan nilai dasar baik-buruk dan benar-salah. Satu-satunya yang berlaku adalah pelampiasan nafsu, kalau pakai idiom agama. Itu pun nafsu murni subyektif egosentris, tanpa dialektika sosial.

Anasir yang sama pada hakikatnya juga terjadi secara lebih luas. Indonesia sedang mengalami Orde Klithih yang kelaliman dan kebrutalannya melebihi Orde Lama maupun Orde Baru. Di zaman Orla tentara sangat berkuasa, tetapi tindakan keras mereka memenuhi hukum sebab akibat. Siapa saja, orang, tokoh, kelompok, Ormas atau Parpol yang tidak sejalan dengan apa yang dilakukan oleh Bung Karno, akan mengalami klithih. Bentuk klithihnya pun tidak semena-mena dipenggal kepalanya, melainkan bisa menghancurkan reputasinya, membangkrutkan lembaga bisnisnya, membubarkan organisasinya dst. Saya dan keluarga mengalami penghancuran semacam itu di masa Orla, meskipun saya tidak pernah “ngundat-undat” hal itu di masa dewasa saya.

Di zaman Orba tentara sangat berkuasa dan ditakuti semua masyarakat. Tetapi tetap ada dialektika akal pikirannya. Tetap ada pendapat umum, meskipun akan dipenggal kalau tidak sama dengan arah langkahnya Pak Harto. Bentuknya bisa dibubarkan kegiatannya, dilarang memasuki suatu wilayah, ditangkap dan dipenjara. Minimal dicekal. Ratusan kali saya mengalami pencekalan, sehingga nama dan kegiatan saya identik dengan cekal.

Indonesia dengan Pemerintahannya sekarang jauh lebih canggih dan kaya formula maupun strategi untuk melakukan klithih politik. Ini zaman internet, zaman kemewahan informasi dan komunikasi. Ini era digital-milenial. Dengan dasar dan keberangkatan yang sama dengan yang saya uraikan tentang klithih di atas, siapapun yang berkuasa sekarang dengan sangat mudah dan sangat banyak cara untuk melakukan klithih politik. Maka potensialitas dan aktualisasi klithih era sekarang ini melebihi Orla maupun Orba. Kalau di zaman Orla dan Orba Anda bisa digrebeg pasukan bersenjata (sekian kali saya mengalami langsung dengan Gus Dur dan juga dengan KiaiKanjeng), kalau sekarang dikeroyok di internet, medsos dan media massa. Pasukannya tersedia sejak awal kekuasan, siap dengan misalnya proyek “deEmhaisasi”. Bahkan Lembaga-lembaga hukum dalam struktur Negara mematuhi dan mengaktualisasikannya.

Kelihatannya Indonesia dikuasai dan diperintah bukan oleh Junta Militer. Tetapi sekarang banyak cara dan peluang untuk bisa menerapkan “militerisme media”, “militerisme budaya”, “militerisme politik”, “militerisme birokrasi”, bahkan “militerisme mitologi”. Sementara hukum ekonomi pasar, meskipun kelihatannya tidak bisa didikte oleh militerisme, tapi dia tidak bisa merupakan jawaban terhadap arus militerisme. Apalagi budaya media dan iklan adalah “pasukan siluman”, suatu modus klithih lain yang halus, yang sangat mudah memperdaya rakyat dalam kemiskinan dan keputusasaannya.

Masa depan NKRI di genggaman tangan Orde Klithih ini sungguh-sungguh berada dalam darurat kehancuran, karena masa kininya membiasakan klithih tanpa bisa ditemukan oleh rakyat bentuk antisipasi atau kritisismenya. Kalau secara agama bangsa Indonesia sepenuhnya bergantung pada pertolongan Allah dengan menunggu hidayah dan perlindungan untuk membangun mekanisme “nahi munkar”. Sementara sangu kita semua, modal rakyat Indonesia dan Ummat Islam belum tentu mencukupi untuk memperoleh limpahan pertolongan dari Allah Swt. Sampai kapan Jamaah Maiyah sembunyi di Gua Kahfi?

Satu substansi lagi: hendaknya menjadi pengetahuan dan kesadaran kita bahwa pelaku-palaku klithih tidaklah menyimpulkan bahwa yang mereka lakukan itu adalah klithih. Mereka tidak memiliki logika, pengetahuan dan kesadaran untuk bisa mengidentifikasi mana perilaku klithih dan mana bukan. Mereka cenderung merasa benar. Demikian juga Pemerintah yang sedang berkuasa. Mampuslah Anda dan saya. Jangan bilang mereka salah, apalagi biang klithih — nanti Anda diserbu oleh Hizbul Ghaul, pasukan Iblis.

Jamaah Maiyah tahu manusia kategori keempat: “Rajulun la yadri wala yadri annahu la yadri”. Orang yang tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa dia tidak mengerti, “fahuwa jahilun murakkab”. Rumusnya adalah “fatrukhum”, tinggalkan mereka. Itulah sebabnya Maiyah melakukan “Lockdown 309 tahun” di Gua Kahfi.

Sementara janji Allah yang menurut firman-Nya sendiri tak mungkin diingkari — “wa nuridu an namunna ‘alalladzinas-tudl’ifu fil ardl wa naj’aluhum aimmatan wa naj’aluhumul waritsin” (Dan Kami berjanji bagi siapa saja yang dilemahkan dan dianiaya di muka bumi, akan Kami jadikan pemimpin dan Kami jadikan pewarisKu) — tidak ada jaminan logis bahwa itu berlaku untuk rakyat Indonesia yang manapun, termasuk Masyarakat Maiyah.

https://www.caknun.com/2020/orde-klithih/

  • 0
  • Baca: 22 kali
Berlangganan RSS feed