Masuk

Jilbab atau Pekerjaan? Polemik Hangat Islam di Singapura

MAMHTROSO.COM -- Farah terpaksa harus melepas jilbabnya, yang telah dikenakannya sejak remaja, ketika bekerja di sebuah rumah sakit di Singapura.

Meski tidak ada larangan berjilbab di Singapura, namun sebagian besar profesi melarang para karyawannya mengenakan atribut keagamaan, khususnya jilbab.

Farah hanyalah satu di antara sekian banyak Muslim, sekitar 15 persen dari populasi penduduk Singapura, yang mendapatkan diskriminasi tersebut. Wanita yang bekerja sebagai fisioterapis itu bergabung dengan 50 ribu partisipan lain telah mendukung petisi online agar diskriminasi di tempat kerja ini segera dihentikan.

“Mereka mengatakan kepada saya bahwa saya tidak dapat bekerja di sini jika saya mengenakan jilbab,” kata Farah yang dikutip di Reuters, Senin (21/9). 

Di sisi lain, Halimah Yacob, presiden wanita pertama negara itu yang juga mengenakan jilbab, mengatakan, tidak ada tempat untuk diskriminasi. Namun realitanya, pembatasan tetap terjadi di berbagai bidang profesi, termasuk polisi wanita dan perawat.

Perdebatan seputar hijab bukanlah hal baru di Singapura, negara kota modern yang bangga dengan latar belakang multikultural dan multi rasanya. Negara ini didominasi etnis Tionghoa, banyak dari mereka menganut Buddha atau Kristen.

Pada 2013, Menteri Urusan Muslim Yaacob Ibrahim mengatakan mengenakan jilbab di tempat kerja akan "sangat bermasalah" untuk beberapa profesi yang membutuhkan seragam. Tahun berikutnya, Perdana Menteri Lee Hsien Loong mengatakan masalah jilbab adalah tentang "masyarakat seperti apa yang ingin kami bangun di Singapura".  

Merujuk pada kasus farah atau diskriminasi hijab lainnya, presiden Singapura mengatakan diskriminasi di tempat kerja sangat 'mengganggu', karena menghalangi seseorang untuk mencari nafkah.

“Orang harus dinilai hanya berdasarkan prestasi dan kemampuannya untuk melakukan suatu pekerjaan dan bukan yang lain,” tulis Halimah di Facebooknya, yang menarik lebih dari 500 komentar.

“Selama periode Covid-19 ini ketika kekhawatiran atas pekerjaan dan mata pencarian semakin besar, insiden diskriminasi memperburuk kecemasan dan orang merasa terancam,” tambahnya.

Jilbab telah menjadi masalah yang memecah belah umat Islam di seluruh dunia. Banyak wanita Muslim menutupi kepala mereka di depan umum sebagai tanda kesopanan, meskipun yang lain melihatnya sebagai tanda penindasan wanita. 

Tapi aktivis hak perempuan di Singapura mengatakan mereka ingin perempuan Muslim memiliki kebebasan memilih. Pembatasan semacam itu telah menghambat prospek pekerjaan perempuan, terutama ketika pandemi  telah mendorong Singapura ke dalam resesi dan banyak perusahaan terpaksa gulung tikar, kata mereka.

“Wanita harus dapat menjalankan agamanya dengan bebas tanpa harus memilih antara memiliki pekerjaan atau menjalankan agamanya,” kata Filzah Sumartono, seorang penulis yang membantu menjalankan Beyond the Hijab, sebuah situs web yang berfokus pada wanita Muslim Singapura.

"Masalah di Singapura ini hanya dihadapi oleh wanita Muslim, ini adalah kebijakan diskriminatif yang kuat terhadap wanita Muslim," katanya kepada Thomson Reuters Foundation.

Filzah dari kelompok Beyond the Hijab mengatakan pembatasan tersebut dapat mempersulit perempuan untuk memasuki dunia kerja. "Beberapa wanita merasa tidak nyaman menghapus sebagian dari identitas mereka hanya untuk mendapatkan uang," katanya.

“Harus memberikan pilihan yang sangat sulit ini pada wanita Muslim adalah tidak adil dan tidak adil,” kata dia menegaskan.

Sumber: https://www.reuters.com/article/us-singapore-women-rights/job-or-hijab-singapore-debates-ban-on-islamic-veil-at-work-idUSKCN26C030?rpc=401&

https://republika.co.id/berita/qh04lq320/jilbab-atau-pekerjaan-polemik-hangat-islam-di-singapura

 

  • 0
  • Baca: 4 kali

Milikilah Sifat Malu

MAMHTROSO.COM -- Mubhalig dan Sekretaris Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Kepulauan Anambas, Deri Adlis SHi.

Dalam kitab Hadist Ar’abain,  Imam an-Nawawi menuliskan hadis dari  Dari Abu Mas’ud, ‘Uqbah bin ‘Amr Al Anshari Al Badri radhiyallahu anhu, ia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Sesungguhnya diantara yang didapat manusia dari kalimat kenabian yang pertama ialah : Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu.” (HR. Bukhari)

Hadist ini dikeluarkan oleh Imam bukhari dari riwayat Manshur bin Al-Mu’tamar dari Rib’iy bin Hirasyi danri Abu Mas’ud  dari Hudzaifah dari Nabi Salallahu Alaiwassalam. Para ulama ahli hadis memiliki perbadaan dalam sanad hadist ini. Namun sebagian besar ahli hadis menyatakan bahwa ini adalah perkataan dari Abu Mas’ud. Yang mengatakan demikian adalah Imam al-Bukhari, Abu Zur’ah, Ar-Riaziy, Ad-Daruquthniy. Yang menunjukan kebenaran tentang hal ini yaitu telah diriwayatkan dengan jalan lain, dari Abu Mas’ud pada riwayat Masruq. Dikeluarkan juga oleh Ath-Thabraniy dari hadits Abu Ath-Thufail dari Rasullullah Juga.

Hadits diatas ini sangat penting artinya dan mesti menjadi perhatian yang sangat serus  bagi setiap Muslim, karena dalam hadis ini putaran-putaran ajaran Islam semuanya bertumpu. Hadits ini singkat redaksinya, tapi padat maknanya dan sarat akan pesan moral, karena didalamnya Rasulullah SAW mengingatkan kita akan pentingnya rasa malu, sebagai suatu sifat bagi bersandarnya akhlak-akhlak Islami.

Seorang muslim adalah orang yang selalu menjaga harga dirinya dan pemalu. Sifat malu wajib hukumnya dimiliki oleh seorang muslim. Ia merupakan akhlak yang mulia, agung, dan  sifat inimerupakan sifat yang selalu diseru oleh syariat dalam al-qur’an. Ibnu Qoyyim juga mengatakan; “sifat malu merupaka sifat khusus bagi kemanusiaan. Orang yang tidak memiliki sifat malu, berarti tidak ada dalam dirinya sifat khusus ini dalam dirinya kecuali hanya sekedar bentuk daging,  darah dan sifatnya. Selain itu dia tidak memiliki kebaikan apapun pada dirinya. Selain itu sifat malu juga  merupakan benteng dari melakukan perbuatan-perbuatan buruk, jika rasa malu telah hilang pada seseorang maka berbagai keburukan akan ia lakukan, seperti membunuh, zina, durhaka pada kedua orang tua dan lain-lain.

Musthafa Murad dalam Minhajul Mukmin menuliskan, sifat malu merupakan salah satu dari tujuh puluh cabang iman. Hal ini disebabkan kerena keduanya (iman dan malu) sama-sama menyeru dan mendorong seseorang kepada kebaikan dan menjauhkannya dari kejahatan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan ‘Laailaahaillallah’, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan, dan malu itu salah satu cabang keimanan” (HR. Bukhari dan Muslim). Sebuah  hadist yang diriwayat Ibnu Majjah juga disebutkan ;”Malu termasuk bagian dari iman dan iman balasannya di surga.

Imam Nawawi dalam riyadhus shalihin menuliskan, hakikat sifat malu merupakan sebuah budipekerti yang menyebabkan yang menyebabkan seseorang meninggalkan perbuat yang buruk dan dia tidak mau lenggah menunaikan hak seseorang yang mempunyai hak. Sebuah riwayat dari Abul Qasim juga mengatakan ;”malu merupakan perpaduan antara melihat berbagai macam kenikmatan  atau karunia dan melihat adanya kelengahan, kemudian tumbuhlah diantara kedua macam sifat itu suatu keadaan yang dinamakan malu.   

Secara umum, para ulama seperti Ibnu Rajab Al-Hambali membagi sifat malu kepada dua macam yaitu malu sebagai sebuah tabiat atau pembawaan yang dianugerahkan Allah SWT sejak manusia lahir. Kedua, malu yang tumbuh sebagai hasil usaha.  Sabda Rasulullah SAW dalam hadits ini lebih merujuk pada malu dalam bentuk kedua. Bila demikian, kita wajib merawat dan mengembangkan rasa malu ini dengan berusaha mengenal siapa Allah dan siapa diri kita.

Sedangkan tingkatannya, Ibnu Qoyyim dalam kitab Mijkrajul Muslimim membagi sifat malu kepada tiga tingkatan yaitu: pertama sifat malu yang muncul karena seorang hamba  tahu bahwa Allah  melihat dirinya, sehingga dia terdorong untuk selalu bermujahadah, mencela keburukan dirinya, dan dia tidak pernah merasa mengeluh.

Selagi seorang hamba mengetahui bahwa Allah melihat dirinya, maka hal ini akan membuatnya malu terhadap Allah, lalu mendorongnya untuk semakin taat. Hal ini seperti hamba yang bekerja di hadapan tuannya, tentu akan semakin giat dalam bekerja dan siap memikul bebannya, apalagi jika tuannya berbuat baik kepadanya dan dia pun mencintai tuannya. Keadaan ini berbeda dengan hamba yang tidak ditunggui dan dilihat tuannya. Sementara Allah senantiasa melihat hamba-Nya. Jika hati merasa bahwa Allah tidak melihatnya, maka ia tidak merasa malu kepada-Nya.

Kedua sifat Malu yang muncul karena merasakan kebersamaan dengan Allah, sehingga menumbuhkan cinta, merasakan kebersamaan dan tidak suka bergantung kepada makhluk. Kebersamaan dengan Allah ada dua macam: Umum dan khusus. Yang umum ialah kebersamaan ilmu dan keikutsertaan, seperti firman-Nya, “Dan, Dia bersama kalian di mana saja kalian berada.” (Al-Hadid: 4). Sedangkan kebersamaan yang khusus ialah kedekatan bersama Allah, seperti firman-Nya, “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan mereka yang berbuat kebajikan.” (An-Nahl: 138). “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 153).

Ketiga Malu yang muncul karena melepaskan ruh dan hati dari makhluk, tidak ada kekhawatiran, tidak ada pemisahan dan tidak berhenti untuk mencapai tujuan. Jika ruh dan hati bersama Pencipta semua makhluk, maka ia akan merasakan kedekatan dengan-Nya dan seakan bisa menyaksikan-Nya secara langsung, sehingga tidak ada lagi kekhawatiran untuk berpisah dengan-Nya. Di dalam hati itu juga tidak ada sesuatu selain Allah.

Akibat Hilangnya Sifat Malu

Ibnu Abid Dunyam menulis dalam Makarimil Akhlaq bahwa Umar bin Khatab perna berkata; ’Barang siapa yang rasa malunya sedikit mala sifat waro’nyapun berkurang dan barang siapa yang sifat wara’nya berkurang maka hatinya pasti akan mati.

Sebuah riwayat dari Salman Alfarisi menuliskan; ”Sungguh jika Allah berkehendak untuk membinasakan seseorang maka akan Allah hilangkan rasa malu dari diri orang tersebut. Jika rasa malu sudah tercabut dari dirinya maka tidaklah kau jumpai orang tersebut melainkan orang yang sangat Allah murkai. Setelah itu akan hilang sifat amanah dari diri orang tersebut. Jika dia sudah tidak lagi memiliki amanah maka dia akan menjadi orang yang suka berkhianat dan dikhianati. Setelah itu sifat kasih sayang akan dicabut darinya. Jika rasa kasih sayang telah dicabut maka dia akan menjadi orang yang terkutuk. Sesudah itu, ikatan Islam akan dicabut darinya.”

Ibnu Abbas mengatakan; “Rasa malu dan iman itu satu ikatan. Jika dicabut salah satunya maka akan diikuti oleh yang lain.” (Diriwayatkan dalam Mu’jam Ausath).

Perkataan dua orang sahabat Nabi di atas menunjukkan bahwa orang yang tidak lagi memiliki rasa malu itu tidak memiliki faktor pencegah untuk melakukan keburukan. Dia tidak akan sungkan-sungkan untuk melakukan yang haram dan sudah tidak takut dengan dosa. Lisannya juga tidak berat untuk mengucapkan kata-kata yang buruk.

Ibnu Qoyyim juga berkata : salah satu sebab merajalelanya kemaksiatan adalah hilangnya rasa malu sebagai unsur utama hidupnya hati, dia adalah pondasi setiap kebaikan, mak hilangnya rasa malu seseorang berasti sirnanya seluruh kebaikan.

https://republika.co.id/berita/qgs0xw366/milikilah-sifat-malu

 

 

  • 0
  • Baca: 5 kali

4 Karakter Calon Penghuni Neraka dalam Surat Yunus

MAMHTROSO.COM -- Bagi orang beriman, kehidupan dunia hanyalah satu episode dari perjalanan hidup yang panjang, bukan akhir dari kehidupan dan segalanya. Namun, di balik itu, masih terdapat alam kubur dan akhirat.

Di sana, manusia berjumpa dengan Tuhannya. Karena itu, ia selalu berkomunikasi dengan Allah, melalui ibadah dan doa setiap hari dan waktu agar perjumpaan itu terlaksana secara sukses dan menyenangkan.

Adapun bagi orang yang tidak beriman, dunia seolah menjadi titik henti terakhir. Karena itu, seluruh hidupnya dipertaruhkan dan dicurahkan hanya untuk mencari kepuasan atau popularitas diri. Inilah yang Allah gambarkan dalam Alquran, 

إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آيَاتِنَا غَافِلُونَ 

“Orang-orang yang tidak mengharapkan adanya perjumpaan dengan Kami, lalu merasa puas dengan kehidupan dunia, merasa tenteram dengannya, serta orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, tempat mereka adalah neraka sesuai dengan apa yang mereka lakukan.” (QS Yunus {10}: 7).

Menurut Wahbah Zuhayli dalam Tafsir al-Munir, ayat di atas memberikan gambaran tentang empat karakter calon penghuni neraka. Pertama, tidak meyakini adanya pertemuan dengan Allah. Mereka tidak takut kepada hukuman-Nya, peringatan-Nya, ancaman-Nya, serta sama sekali tidak mengharapkan pahala dari-Nya. 

Kedua, puas dengan kehidupan dunia. Ini adalah akibat logis dari sikap pertama. Ketika seseorang tidak percaya akan berjumpa dengan Allah, dia tidak akan menyiapkan apa pun untuk pertemuannya nanti dengan Allah. Seluruh capaiannya hanya berorientasi kepada dunia yang pendek.

Ukuran kelapangan, kesenangan, dan kegembiraan bertumpu pada dunia dan keduniaan semata. Berbagai upaya untuk mencapainya dilakukan meski dengan menghalalkan segala cara, mempertaruhkan reputasi, menanggalkan harga diri, menyerang kawan sendiri, bahkan harus mengorbankan agama sekali pun.

Ketiga, merasa tenteram dan nyaman dengan dunia. Ini dirasakan ketika kesenangan dan kenikmatan dunia entah berupa harta, wanita, kedudukan, dan jabatan berhasil dicapai.

Keempat, lalai terhadap ayat-ayat-Nya. Yakni, merasa aman dari siksa dan ancaman Allah di dunia ataupun akhirat. Dengan kata lain, sama sekali tidak merasa penting mengambil pelajaran dan tidak merenungkannya.

Manakala empat karakter tersebut terdapat dalam diri manusia, ia akan jauh dari jalan kesempurnaan, dan tidak akan pernah mencapai kebahagiaan. Sebab, kesempurnaan dan kebahagiaan terletak pada kemampuan manusia menata hidup secara benar dengan menjadikan akhirat sebagai tujuan .

https://republika.co.id/berita/qgv5s3320/4-karakter-calon-penghuni-neraka-dalam-surat-yunus

 

  • 0
  • Baca: 5 kali

Sukses Dimulai dari Hal yang Kecil

MAMHTROSO.COM -- Tak ada sukses besar tanpa dimulai dari yang kecil-kecil. Jangan remehkan prestasi kecil, karena di sanalah kita dipupuk untuk mencapai hasil-hasil lebih besar.

Semua terbentuk melalui proses. Dan, sayangnya, justru banyak orang yang lebih melihat sisi besarnya dibandingkan proses yang terjadi sebelumnya. Akibatnya, tak sedikit orang yang melihat kesuksesan orang lain dari kacamata besaran yang diraih—materi, jabatan, uang, kehormatan, dan hal besar lain—tanpa melihat lebih jauh bagaimana semua itu diperoleh.

Istilah the rising star atau bintang yang melesat kegemilangannya dengan cepat menjadi satu hal yang didamba banyak orang. Sukses pun sebisa mungkin dicapai dengan cara cara yang instan. Akibatnya, sukses yang bisa diraih pun rapuh. Jika tak waspada, mudah sekali untuk jatuh!

Pepatah Tiongkok Kuno mengatakan, perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah. Ini sebenarnya adalah “fondasi dasar” yang harus bisa kita miliki untuk meraih impian. Ada berbagai hal/proses kecil yang harus kita jaga konsistensinya untuk menjadi “kekuatan awal” terjadinya sukses besar yang kita dambakan.

Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk memulai langkah menciptakan sukses.

Pertama, ketahui persis apa yang kita inginkan dalam hidup. Saya kira, pasti banyak sekali. Mulai dari menjadi kaya, sukses, ingin bisa menyekolahkan anak di sekolah terbaik, mencapai jabatan tertentu, mendapatkan pencapaian tertentu, dan sebagainya. Tapi, apakah kita bisa membuat pilihan lima, tiga, atau bahkan satu saja yang paling penting agar bisa fokus?

Kedua, ketahui hal apa yang bisa kita lakukan untuk mencapainya. Buatlah daftar mengenai apa saja yang harus dilakukan untuk mewujudkan impian kita menjadi nyata. Misalnya kita berprofesi sebagai guru, berapa murid yang akan kita cetak menjadi juara di bidangnya. Berapa tingkat kelulusan yangmenjadikan kita sukses sebagai guru. Atau, misalnya sebagai pengusaha, berapa omzet yang ingin kita capai. Jika target itu telah kita tetapkan, kita bisa menyusun langkah apa saja yang harus kita siapkan untuk mencapai ke sana.

Ketiga, susun langkah demi langkah kecil, kerja apa saja yang dilakukan untuk mencapainya. Langkah yang kita tentukan tak harus langsung berupa langkah besar. Kita bisa memulai dari langkah-langkah kecil. Misalnya, sebagai sebagai seorang sales, kita buat komitmen, minimal sehari sepuluh telepon. Dari sepuluh telepon, minimal tiga kali pertemuan tatap muka. Dari tiga tatap muka, minimal ada satu yang menjadi pelanggan. Begitu hal tersebut bisa dicapai, kita bisa mulai menciptakan standar baru yang lebih tinggi. Begitu seterusnya. Dari situlah kita akan menciptakan hal-hal kecil yang mampu mengantar kita mencapai sukses yang kita dambakan.

Pesan saya, jangan pernah memanding remah atau menyia-nyiakan prestasi kecil yang tercipta. Sebab, justru dari prestasi kecil itulah, kita sedang menapaki langkah menuju sukses besar yang kita damba.

Mari, syukuri setiap pencapaian yang kita peroleh, sehingga setiap langkah akan mengantarkan kita pada sukses yang gemilang, memuaskan, dan bermanfaat. Salam sukses luar biasa!

https://andriewongso.com/sukses-besar-dimulai-dari-hal-yang-kecil/

 

  • 0
  • Baca: 5 kali

ما تحصل به صلة الرحم

السؤال

في الحد الأدنى لصلة الرحم. هل مجرد أن لا يشعر القريب بأن هناك خصاما يتحقق الحد الأدنى؟
فمثلا: أنا علمت أن لجدتي -رحمها الله- "أسألكم والزوار الدعاء لها بالرحمة" أخًا وأختًا، والأخ قد لا يعرفني إذا رآني أصلا، وأنا بطبعي منطوٍ جدا، وأسافر كثيرا. أعتقد أن إخوة جدتي مثلا لا يشعرون أبدا بأني مخاصمهم، بل يعرفون ظروف الحياة. هذا السؤال الأول.
أما الثاني فهو: هل مجرد أني لو قابلت أحدا -وهو قليل جدا لانعزالي- فألقي عليه السلام، فيكون هذا هو الحد الأدنى لصلة الرحم الذي لا أعاقب به؟
وأسألكم الدعاء لي؛ فإني في كرب شديد.

 

الإجابــة

 

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه، أما بعد: 

فقد بينا الحد الأدنى لصلة الرحم في الفتوى: 163327. وذكرنا فيها أن ذلك خاضع للعرف، فما عده الناس صلة، فهو الصلة المأمور بها، وما عدوه قطيعة وهجرا، فهو كذلك.

ولا ريب أن تركك المطلق لصلة هؤلاء الأرحام لا تسمى به واصلا للرحم، فعليك أن تصلهم بما يتيسر لك، ولو بالاتصال في المناسبات ونحوها، أو بالزيارة ولو على فترات متباعدة.

وإذا كان تسليمك على ذي الرحم أحيانا يعد صلة عرفا، فلا حرج عليك في الاقتصار عليه، وكلما كنت أوصل للرحم كان أجرك أتم، ومثوبتك أعظم.

والله أعلم

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/427570/%D9%85%D8%A7-%D8%AA%D8%AD%D8%B5%D9%84-%D8%A8%D9%87-%D8%B5%D9%84%D8%A9-%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%AD%D9%85

 

  • 0
  • Baca: 1 kali

What Is the Proper Way to Give Shahada Online?

Question:

as-salamu `alaykum. As there are now a few websites that offer shahadah online, I wonder how accepted this would be. Thank you.

 

Answer:

Sheikh Hamid Al-`Ali

Wa `alaykum as-salamu wa rahmatullahi wa barakatuh.

In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful.

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.

 

In this fatwa:

1- Islam lays more emphasis on conviction on the part of the person who embraces Islam. This is what really matters, as there should be no compulsion in religion.

2- There is nothing wrong with giving the shahadah via the internet provided that the one given the shahadah pronounces the words of embracing Islam by his or her tongue in addition to writing it.


With regard to your question, Sheikh Hamed Al-Ali, Instructor of Islamic Heritage at the Faculty of Education, Kuwait and Imam of Dahiat As-Sabahiyya Mosque, answers: 

There is nothing wrong with giving the shahadah via the internet provided that the one given the shahadah pronounces the words of embracing Islam by his or her tongue.

It is not enough to write the words of shahadah online, except for the one who is not able to speak. The reason for this is that the Prophet (peace and blessings be upon him) used to order anyone embracing Islam to say the shahadah by his or her tongue.

If this is done, then the one given the shahadah is called a Muslim.

To illustrate, the verses of the Quran and the hadiths of the Prophet (peace and blessings be upon him) indicate that saying “La illaha illa Allah” (there is no god worthy of worship but Allah) is a condition for one to embrace Islam.

Furthermore, Muslim scholars have unanimously agreed that iman is a belief reposing in the heart and reflected through the verbal words (of shahadah) and religious observances.

The salaf (righteous predecessors) are also unanimous on this issue.

Thus, we conclude that we have to teach the one who is given the shahadah on the internet to say the shahadah by his or her tongue in addition to writing it so that we can consider him/her a Muslim.

Allah Almighty knows best.

Editor’s note: This fatwa is from Ask the Scholar’s archive and was originally published at an earlier date.

https://aboutislam.net/counseling/ask-the-scholar/dawah-principles/giving-shahadah-internet/

 

 

  • 0
  • Baca: 1 kali

Berita-MATROS Adakan Sparingan Bola Voli dengan SMK Al-Hidayah Langon

MATROS Adakan Sparingan Bola Voli dengan SMK Al-Hidayah Langon

 

 

       Sabtu,19 September 2020.Dalam rangka meningkatkan kualitas pemain dan mempererat persaudaraan,MA Matholi'ul Huda Troso mengadikan kegiatan sparingan pertandingan bola voli dengan SMK Al-Hidayah Langon."Sparing ini untuk mendidik para pemuda-pemudi sekolah di Jepara biar lebih ada peningkatan biar lebih berkembang.Sparing ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas,sering diadakan sparing bisa membuat mentalitas berkembang."ucap Sholikul Hadi,Pelatih bola voli SMK Al-Hidayah Langon saat diwawancarai ketika pemain melakukan pemanasan.

      Peserta dari SMK Al-Hidayah Langon tiba di MA MH Troso pada pukul 16:30 WIB.Pertandingan ini dilangsungkan di Lapangan Olah Raga(LOR) dan disaksikan sebagian siswa-siswi mATROS sebagai suporter.Sebelum latihan dilakukan,para pemain melakukan pemanasan terlebih dahulu.Pertandingan di laksanakan pada pukul 16:45 WIB.Pertandingan berjalan seru dan sengit,terbukti pada babak pertama berakhir dengan skor 24:25 atas kemenangan Team Langon.Tak jauh berbeda dengan babak pertama,Team Langon dan Team MATROS sama-sama memberikan penampilan dan performa yang baik,keduanya sama-sama menunjukkan kebolehannya dalam bermain bola voli.Babak keduapun berakhir dengan skor 18:25 atas kemenangan Team Langon.Hari yang semakin petang,tak menyurutkan semangat pemain dalam bertanding. Babak ketigapun berakhir dengan skor 16:22 atas kemenangan Team Langon. Pertandingan berakhir pada pukul 17:40 dengan hasil akhir 3:0 atas kemenangan Team Langon dengan skor 24:25, 18:25, dan 16:22. 

       Di penghujung acara, para pemain dan pelatih saling berjabat tangan antar kedua team dan diakhiri dengan momen foto bersama. Diharapkan kegiatan sparingan seperti ini bisa diadakan lagi guna meningkatkan kualitas pemain dan mempererat silaturrahmi. 

  • 0
  • Baca: 5 kali

ARTIKEL - PEMBELAJARAN DARING DIMASA PANDEMI COVID-19

Pembalajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19

Al Vianti Nurul Hikmah (XII Mia 2)

 

       Saat ini corona menjadi pembicaraan yang hangat. Dibelahan bumi manapun, corona masih mendominasi ruang publik. Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV-2) yang dikenal dengan nama virus corona adalah jenis baru dari corona virus yang menyebabkan penyakit menular ke manusia.

       Covid-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan. Virus corona ini bisa menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan seperti, infeksi paru-paru yang berat, hingga kematian. Covid-19 pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019.

       Hal tersebut membuat beberapa negara menetapkan kebijakan untuk memberlakukan lockdown dalam rangka mencegah penyebaran virus corona. Beberapa pemerintah daerah memutuskan menerapkan kebijakan untuk meliburkan siswa dan mulai menerapkan metode belajar dengan sistem daring (dalam jaringan) atau online. Kebijakan pemerintah ini mulai efektif diberlakukan di Indonesia pada hari Senin, 16 Maret 2020.

       Sistem pembelajaran daring merupakan sistem pembelajaran tanpa tatap muka secara langsung antara guru dan siswa, tetapi dilakukan melalui online yang menggunakan jaringan internet. Guru harus memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, meskipun siswa berada dirumah. 

    Sistem pembelajaran dilaksanakan melalui komputer/laptop, dan handphone yang terhubung dengan jaringan internet. Guru dapat melaksanakan pembelajaran melalui WhatsApp, telegram, Instagram dan media lainnya sebagai media pembelajaran semua sektor merasakan dampak corona salah satunya dunia pendidikan. Bagi siswa yang tidak mempunyai handphone melakukan pembelajaran secara berkelompok. Mulai belajar melalui videocall yang dihubungkan dengan guru yang bersangkutan, diberi pertanyaan, mengabsen melalui voicenote yang tersedia di WhatsApp. Materinya pun diberikan dalam bentuk video yang berdurasi kurang dari 2 menit. 

        Permasalahan yang terjadi bukan hanya terdapat pada sistem media pembelajaran akan tetapi ketersediaan kuota yang membutuhkan biaya cukup tinggi harganya bagi siswa dan guru guna memfasilitasi kebutuhan pembelajaran daring. Hal ini menjadi permasalahan yang sangat penting bagi siswa yang orang tuanya berpenghasialan rendah atau dari kalangan kurang mampu. Permasalahan yang menjadi kendala pembelajaran bagi siswa yang lainnya adalah tempet tinggal siswa yang sulit mendapat jaringan internet. Sehingga pembelajaran daring kurang optimal.

        Ada sebuah pelajaran yang dapat di petik dari dunia pendidikan di tengah pandemi covid 19, yakni belajar dengan tatap muka dengan guru terbukti lebih efektif ketimbang secara daring. Pembelajaran daring secara penuh, akhir-akhir ini banyak menimbulkan keluhan dari peserta didik maupun orang tua. Beberapa guru di sekolah mengaku, jika pembelajaran daring ini tidak seefektif kegiatan pembelajaran tatap muka langsung, karena beberapa materi harus di jelaskan secara langsung dan lebih lengkap. Selain itu, materi yang disampaikan secara daring belum tentu bisa di pahami semua siswa.

       Disamping itu, kesuksesan pembelajaran daring selama masa covid 19 ini tergantung kedisiplinan semua pihak, baik siswa maupun guru. Semoga pandemi covid 19 ini cepat berlalu seiring dengan new normal yang telah diberlakukan oleh pemerintah. sehingga proses pembelajaran bisa terlaksana seperti semula. 

  • 0
  • Baca: 3 kali
Berlangganan RSS feed